Bekantan Jantan di Taman Nasional Kalimantan (Pinterest/Claire Clements)
KALSEL – Pulau Kaget, sebuah delta alami yang terletak di muara Sungai Barito, Kalimantan Selatan, bukan sekadar destinasi wisata biasa. Pulau ini merupakan suaka margasatwa yang menjadi benteng terakhir bagi kelangsungan hidup bekantan (Nasalis larvatus), primata endemik Kalimantan yang berstatus terancam punah. Dengan luas mencapai 292,437 hektar berdasarkan SK Menteri Kehutanan tahun 2009, pulau ini menyimpan keindahan alam sekaligus tantangan konservasi yang kompleks.
Pulau Kaget terbentuk dari endapan lumpur Sungai Barito yang mengalir dari pedalaman Kalimantan menuju Laut Jawa. Proses sedimentasi selama ratusan tahun menciptakan daratan subur yang ditumbuhi hutan mangrove lebat dan vegetasi khas rawa. Ekosistem unik ini menjadi rumah bagi beragam spesies, dengan bekantan sebagai bintang utamanya.
Pengunjung seringkali "kaget" saat pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini – sesuai dengan namanya – karena disambut oleh suara riuh kawanan bekantan yang bergelantungan di kanopi pohon. Pagi hari adalah waktu terbaik untuk menyaksikan pemandangan ini, ketika primata tersebut aktif mencari makan di tepian sungai sebelum kembali ke dalam hutan saat siang hari.
Baca juga: 5 Destinasi Wisata Alam di Kalsel yang Instagramable
Bekantan, dengan hidung panjang yang khas dan bulu kemerahan, adalah maskot fauna Kalimantan Selatan yang telah ditetapkan sejak 1990. Satwa ini memiliki beberapa keunikan:
Statusnya yang terancam punah (Endangered menurut IUCN) membuatnya dilindungi undang-undang, dengan sanksi pidana bagi yang menangkap atau memperdagangkannya .
Baca juga: Eduwisata Alam di Banua Anam Mari Menyelami Konservasi Satwa dan Flora Endemik Kalimantan Selatan!
Meski ditetapkan sebagai kawasan lindung sejak 1976, Pulau Kaget menghadapi berbagai tekanan:
1. Perubahan habitat akibat penebangan pohon rambai yang menjadi sumber makanan utama bekantan
2. Perburuan liar dan perdagangan satwa ilegal
3. Status hukum kawasan yang belum sepenuhnya tuntas, menghambat pengelolaan optimal
4. Keterbatasan sumber daya untuk patroli dan pemantauan populasi
Studi Meijaard & Nijman (2000) mencatat kegagalan translokasi bekantan pada akhir 1990-an yang mengakibatkan kematian banyak individu. Ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya pendekatan ilmiah dalam konservasi .
Baca juga: Trik Fotografi Ponsel: Abadikan Keindahan Alam Kalsel
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Meijaard, E. & Nijman, V. (2000). The Local Extinction Of The Proboscis Monkey Nasalis Larvatus In Pulau Kaget Nature Reserve, Indonesia., Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, Indonesia Travel