Taman Hutan Raya Sultan Adam (Pinterest/Sheila Landus)
Kalimantan Selatan, khususnya kawasan Banua Anam (meliputi Kabupaten Tapin dan Hulu Sungai Selatan), menyimpan potensi eduwisata alam yang unik. Gabungan antara konservasi satwa liar, edukasi flora endemik, dan pengalaman interaktif menjadikannya destinasi yang menarik bagi keluarga, pelajar, hingga peneliti. Berdasarkan tiga sumber terpercaya—Balai KSDA Kalsel, Kebun Raya Banua, dan data media—berikut kisah lengkapnya.
1. Konservasi Satwa Liar: Orangutan dan Ekosistem Hutan
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Kalimantan Selatan aktif memantau populasi orangutan (Pongo pygmaeus) di wilayah Banua Anam. Pada 2021, ditemukan 22 sarang di Hulu Sungai Utara dan 10 di Tabalong, bukti bahwa satwa ini masih bertahan di luar kawasan konservasi resmi. Orangutan, sebagai umbrella species, memegang peran krusial dalam regenerasi hutan.
Baca juga: Evaluasi Program Rehabilitasi Hutan di Kalsel: Tantangan Air dan Komitmen Iklim
Tak hanya orangutan, BKSDA juga menangani evakuasi satwa lain seperti beruang madu dan kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis). Kegiatan ini menjadi bagian dari edukasi masyarakat tentang pentingnya melindungi habitat alami. Wisatawan bisa terlibat dalam program pemantauan atau penyuluhan, memberikan pengalaman langsung tentang tantangan konservasi di lapangan.
2. Kebun Raya Banua: Surga Flora Endemik dan Edukasi Interaktif
Terletak di Banjarbaru, Kebun Raya Banua menjadi pelengkap rute eduwisata Banua Anam. Dengan luas 100 hektare, tempat ini menampung lebih dari 3.000 jenis tanaman, termasuk 2.100 tanaman obat dan 900 spesimen anggrek dari 100 spesies—banyak di antaranya endemik Kalimantan Selatan.
Fasilitasnya dirancang untuk edukasi dan rekreasi:
- Pusat Penelitian Tanaman Obat: Mengenal khasiat tumbuhan lokal.
- Labirin dan Menara Pandang: Kombinasi belajar dan petualangan.
- Embung Botani: Tempat ideal untuk camping atau piknik sambil mempelajari ekosistem air.
Dengan tiket terjangkau (Rp5.000–Rp7.000), Kebun Raya Banua cocok untuk kunjungan sekolah atau keluarga. Uniknya, lokasi ini juga melakukan reintroduksi tanaman langka seperti kayu ulin dan buah kelangkala, menunjukkan komitmen terhadap pelestarian biodiversitas.
3. Dampak Sosial dan Tren Pengunjung
Media melaporkan peningkatan signifikan pengunjung Kebun Raya Banua pasca-pandemi, dari 8.000 orang (Oktober 2022) menjadi 13.500 (November 2022). Aktivitas seperti tur bertema, labirin, dan event lingkungan menarik minat komunitas lokal hingga wisatawan luar daerah.
Eduwisata alam di Banua Anam menawarkan tiga pilar utama. Pertama, konservasi satwa melalui program BKSDA yang mendidik sekaligus melibatkan masyarakat. Kedua, eksplorasi flora di Kebun Raya Banua dengan pendekatan interaktif. Ketiga, pengalaman publik yang didukung data statistik dan liputan media.
Dengan menggabungkan unsur edukasi dan petualangan, kawasan ini tidak hanya menjadi destinasi wisata tetapi juga laboratorium alam untuk memahami pentingnya pelestarian biodiversitas Kalimantan Selatan.
Tips untuk Pengunjung:
- Hubungi BKSDA Kalsel untuk jadwal program konservasi.
- Kunjungi Kebun Raya Banua pada sore hari untuk menikmati sunset di Embung Botani.
- Ikuti tur berpemandu untuk informasi lebih mendalam tentang flora dan fauna setempat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kebun Raya Banua, Balai KSDA Kalsel, Media Liputan & Data Pengunjung