Pengaruh Budaya Jawa dalam Budaya Banjar: Akulturasi yang Membentuk Identitas Kalimantan Selatan
KALSEL– Budaya Banjar di Kalimantan Selatan merupakan hasil akulturasi panjang dengan budaya Jawa, yang terjadi melalui jalur historis, migrasi, pernikahan, dan penyebaran agama Islam. Meski demikian, budaya Banjar tetap mempertahankan keunikan lokalnya yang berakar pada budaya sungai dan nilai-nilai Islam.
Latar Sejarah: Kerajaan Negara Dipa dan Majapahit
Pengaruh Jawa dimulai sejak berdirinya Kerajaan Negara Dipa sekitar tahun 1380 M oleh Ampu Jatmika, seorang bangsawan dari wilayah bawahan Majapahit.
Hubungan ini diperkuat melalui pernikahan politik antara Putri Junjung Buih (pemimpin Negara Dipa) dengan Raden Putra (Suryanata), bangsawan Majapahit. Peristiwa ini menjadi titik awal adopsi adat istiadat Jawa yang disesuaikan dengan konteks lokal.
Baca juga: Kirab Budaya Meriahkan Hari Jadi ke-80 Jawa Barat di Kota Bandung
Akulturasi Budaya
Migrasi orang Jawa melalui perdagangan, penyebaran agama, dan program transmigrasi abad ke-20 memperkuat kehadiran budaya Jawa.
Pernikahan antar-etnis dan komunikasi sehari-hari memfasilitasi pertukaran nilai dan tradisi. Agama Islam berperan sebagai perekat yang mempersatukan praktik keagamaan kedua budaya.
Bukti Pengaruh Budaya Jawa
- Bahasa: Bahasa Banjar menyerap kosakata Jawa seperti krama (sopan), alus (halus), dan ngoko (kasar).
- Ritual Adat: Tata cara pernikahan, selamatan, dan upacara kehidupan lainnya menunjukkan adaptasi elemen Jawa.
- Kesenian dan Busana: Bentuk kesenian, motif busana, dan instrumen musik Banjar dipengaruhi estetika Jawa.
- Struktur Sosial: Sistem pemerintahan kesultanan Banjar mengadopsi model hierarkis kerajaan Jawa, dan tradisi pesantren memperkuat nuansa Islam Jawa.
Baca juga: Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi: Simbol Budaya yang Sarat Makna
Meski kuatnya pengaruh Jawa, budaya Banjar tetap menjaga identitas khasnya. Budaya sungai (pasar terapung, rumah lanting) dan nilai-nilai lokal seperti baiman (beriman), bauntung (beruntung), dan batuah (bermanfaat) menjadi pembeda utama.
Data Demografi
Populasi Kalimantan Selatan tahun 2024 mencapai 4.266.342 jiwa, dengan suku Banjar sebagai mayoritas. Sensus 2010 mencatat 14,5% populasi (524.276 jiwa) merupakan etnis Jawa, dan angka ini diduga meningkat due to transmigrasi dan migrasi spontan.
Pengaruh Jawa memperkaya budaya Banjar tanpa menghilangkan identitas aslinya, menciptakan perpaduan unik yang menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: S. U. Firdaus Et Al., The Existence And Way Of The Banjar Tribe Adapting In The Era Of The Covid-19 Pandemic - Atlantis Press (membahas Asal-usul Banjar, Adat, Dan Dinamika Sosial), H. Abdrurrahman & M. Abduh, Banjarese: Self-Concept, Identity And River Culture - Khatulistiwa: Journal Of Islamic Studies (2019). Kajian Akademik Tentang Identitas Banjar, Nilai Baiman, Bauntung, Batuah, Dan Budaya Sungai., Dedy Trio Efendi, Komunikasi Antar Budaya Etnis Jawa Dengan Etnis Banjar Di Desa Teluk Dalam - EJournal Ilmu Komunikasi (Unmul) (2018). Penelitian Lapangan Tentang Proses Akomodasi Komunikasi Antara Jawa Dan Banjar.