Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 01 AGUSTUS 2025 • 01:32 WIB

Barang-Barang Pusaka di Rumah Nenek Orang Banjar: Kisah Magis dan Makna di Baliknya

Barang-Barang Pusaka di Rumah Nenek Orang Banjar: Kisah Magis dan Makna di BaliknyaRumah apung di perairan (Pinterest/Fathur)

Setiap kali mengunjungi rumah nenek orang Banjar, kita sering menemukan benda-benda tua yang menyimpan cerita unik dan nilai magis. Mulai dari jimat bertulisan Arab hingga peralatan dapur antik, benda-benda ini bukan sekadar warisan fisik, melainkan juga penjaga memori keluarga dan tradisi. Berikut beberapa benda pusaka khas Banjar yang kerap ditemukan di rumah-rumah tua, beserta kisah dan makna filosofisnya.  

1. Barajah: Jimat Bertulisan Wafak yang Penuh Mistis  

Barajah adalah benda bertuah yang dirajah (ditulisi) dengan wafak—huruf Arab, simbol, atau angka tertentu yang diyakini memiliki kekuatan magis. Benda ini bisa berupa cincin, gelang, tempurung kelapa, atau bahkan saputangan.

Baca juga: Mengenal Ragam Tipe Orang yang Hadir dalam Acara Maulid di Langgar: Dari Panitia hingga Filantropis

Di rumah nenek Banjar, mungkin tersimpan cincin perak kecil yang diwariskan turun-temurun sebagai pelindung keluarga. Konon, cincin itu diberikan oleh seorang kyai kepada buyut nenek saat hendak merantau, lalu dianggap membawa berkah dan keselamatan.  

Fungsinya beragam, mulai dari penolak bala, penglaris usaha, hingga pengasih. Pembuatannya pun tidak sembarangan—harus dilakukan oleh orang berilmu tinggi (kyai atau tuan guru) pada waktu-waktu khusus, seperti setelah salat tahajud atau puasa sunnah.  

2. Pancar Merah: Talisman Berlafal Asmaul Husna  

Pancar Merah berbentuk cakram logam (perak, tmbaga, atau kuningan) berdiameter 5–7 cm, dengan ukiran Asmaul Husna di satu sisi dan doa khusus di sisi lainnya. Benda ini biasanya disimpan di dalam peti kecil atau digantung di dinding ruang tamu. Beberapa keluarga meletakkannya di balik foto keluarga, percaya bahwa Pancar Merah bisa melindungi rumah dari gangguan makhluk halus atau niat jahat.  

Menurut cerita turun-temurun, Pancar Merah pernah dipakai oleh Sultan Banjar untuk melindungi diri saat menghadapi kerusuhan. Pembuatannya harus dilakukan dengan tirakat, seperti puasa atau wirid tertentu, agar memiliki kekuatan spiritual yang kuat.  

3. Tajau: Tempayan Tanah Liat Penyimpan Berkah  

Tajau adalah tempayan besar dari tanah liat yang biasa digunakan untuk menyimpan air, beras, atau ikan asin. Di rumah nenek Banjar, tajau sering diletakkan di pojok dapur atau ruang tengah. Ada kisah unik di baliknya—konon, tajau warisan buyut nenek pernah dipakai menyimpan beras untuk upacara maulud, lalu air di dalamnya berubah manis meski tanpa gula. Hal ini dianggap sebagai tanda berkah leluhur.  

Selain fungsi praktis, tajau juga melambangkan kemakmuran. Dalam tradisi Banjar, tajau yang pecah harus dikubur dengan hormat karena diyakini memiliki "nyawa" sendiri.  

Baca juga: Mengapa Martapura Dijuluki "Serambi Mekah"?

4. Peralatan Dapur Kuno: Padu, Cubik, dan Parudan  

Padu (tungku tanah liat): Dipakai untuk memasak dengan kayu bakar atau arang. Nenek sering bercerita tentang aroma khas ketupat yang dimasak di padu saat Lebaran.  

Cubik (cobek kayu): Digunakan untuk menumbuk bumbu. Meski sudah lapuk, cubik tetap dipakai setiap Ramadan untuk membuat sambal lado.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Klik Kalsel, Tribun News, Jejak Rekam

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Barang-Barang Pusaka di Rumah Nenek Orang Banjar: Kisah Magis dan Makna di Baliknya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!