alat musik tradisional Kalimantan Selatan, Panting (Dok. Ilustrasi AI)
KALSEL – Di tengah gemuruh musik modern, Kalimantan Selatan menyimpan kekayaan budaya yang tetap lestari—Musik Panting. Alat musik petik khas Suku Banjar ini tidak hanya menjadi pengiring tari tradisional, tetapi juga telah menembus panggung internasional, membawa nama Indonesia ke kancah global.
Dari Desa Rantau Bujur di Kabupaten Tapin, Panting berkembang dari sekadar pengiring Tari Japin menjadi instrumen utama dalam pertunjukan seni Banjar. Nama "Panting" sendiri diberikan oleh A. Sarbaini, seorang tokoh budaya yang memperkenalkannya sebagai bagian dari ansambel musik tradisional pada tahun 1970-an.
Bentuk dan Keunikan Panting
Baca juga: Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi: Simbol Budaya yang Sarat Makna
Panting terbuat dari kayu pilihan seperti nangka, rengas, atau kemuning, dengan resonator dari kulit kambing atau ular. Bentuknya mirip gambus Arab tetapi lebih ramping, dengan tiga senar dan badan yang bulat tanpa lekukan. Bagian-bagiannya meliputi:
Suaranya yang khas dihasilkan dari petikan jari yang dinamis, biasanya mengikuti pola nada diatonik dengan sentuhan melodi Melayu yang kaya ornamentasi.
Dari Tradisi Lokal ke Panggung Global
Awalnya, Panting dimainkan secara solo, tetapi kini sering dipadukan dengan alat musik lain seperti suling, biola, kendang, gong, dan marawis . Musik ini tidak hanya mengiringi Tari Japin, tetapi juga hadir dalam acara pernikahan, penyambutan tamu, hingga festival budaya.
Yang menarik, Panting telah melangkah lebih jauh. Pada South Borneo Art Festival 2018, rombongan Panting berkolaborasi dengan musisi dari 13 negara, membuktikan daya tariknya di kancah internasional . Bahkan, diaspora Banjar kerap membawanya ke festival World Music di Eropa dan Asia Tenggara, memperkenalkan budaya Indonesia dengan cara yang memukau.
Baca juga: Tarian Baksa Kembang yang Simbolkan Keanggunan Budaya Banjar dari Gerakannya
Meskipun semakin langka dimainkan generasi muda, upaya pelestarian terus dilakukan. Sanggar seni dan sekolah di Kalimantan Selatan mulai memasukkan Panting dalam kurikulum, sementara platform digital membantu menyebarluaskan musik ini.
Panting bukan sekadar alat musik—ia adalah simbol kebanggaan Banjar yang terus beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya. Dari Tapin hingga panggung dunia, Panting membuktikan bahwa warisan budaya Indonesia tetap relevan dan memesona.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Student-activity.binus.ac.id, Goodnewsfromindonesia.id