Sabtu, 16 AGUSTUS 2025 • 08:00 WIB

Balogo: Permainan Tradisional Kalimantan yang Sarat Makna dan Keunikan

Author

Permainan Bagasing yang sekarang sudah jarang dimainkan anak - anak (Pinterest/febriani rr)

KALSEL – Di tengah gempuran permainan digital, Kalimantan masih mempertahankan warisan budaya yang mengajarkan nilai-nilai luhur melalui permainan tradisional.

Salah satunya adalah Balogo, permainan unik yang berasal dari suku Banjar di Kalimantan Selatan dan suku Dayak di Kalimantan Tengah. Tak sekadar hiburan, Balogo dipercaya membawa keberuntungan sekaligus menjadi sarana melatih kerja sama dan kejujuran.

Asal-usul dan Makna Filosofis Balogo  

Nama Balogo berasal dari kata logo, yaitu kepingan kecil yang terbuat dari tempurung kelapa. Permainan ini telah ada sejak lama dan diwariskan turun-temurun.

Masyarakat Dayak percaya bahwa Balogo bukan sekadar permainan, melainkan juga alat untuk mengukur "kesuburan" atau keberuntungan hidup seseorang. 

Dahulu, permainan ini kerap dimainkan saat musim panen atau upacara adat seperti Tiwah, sebuah ritual sakral suku Dayak .  

Baca juga: 3 Permainan Tradisional Kalsel yang Sudah Jarang Dimainkan

Cara Bermain dan Strategi yang Menantang  

Balogo dimainkan dengan cara merobohkan logo lawan yang disusun berderet menggunakan alat bernama panapak (tongkat kayu atau bambu sepanjang 40 cm).

Pemain harus meluncurkan logo mereka dengan tepat agar bisa menjatuhkan susunan lawan. Permainan ini bisa dimainkan satu lawan satu atau beregu (2–5 orang). Kemenangan ditentukan dari jumlah logo lawan yang berhasil dirobohkan.

Uniknya, bentuk logo bervariasi—mulai dari bidawang (penyu), segitiga, hingga bulat—yang memengaruhi teknik bermain. Semakin unik bentuknya, semakin menantang strategi yang dibutuhkan .  

Agar tidak tergerus zaman, Balogo kini sering dipertandingkan dalam festival budaya, seperti Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) di Kalimantan Tengah dan Pekan Budaya Banua di Kalimantan Selatan.

Pada FBIM 2024, Balogo bahkan diperkenalkan dalam kategori pelajar, melibatkan siswa SMA se-Palangka Raya .  

Pemerintah setempat juga gencar mengadakan lomba Balogo antarprovinsi, seperti yang baru saja digelar di Kabupaten Tabalong, melibatkan peserta dari Kalsel, Kalteng, hingga Kaltim .  

Baca juga: Lagu Viral dengan Sentuhan Banjar yang Menghibur

Selain melatih ketangkasan, Balogo memiliki nilai-nilai yang mengajarkan:  

  • Kejujuran, karena tidak ada wasit—pemain harus saling percaya.  
  • Kerja sama, terutama saat dimainkan beregu.  
  • Sportivitas, di mana pihak kalah rela dagunya dielus sambil diteriaki "janggut-janggut!" sebagai bentuk kelucuan .    

Balogo adalah bukti bahwa permainan tradisional tidak kalah seru dengan gim modern. Dengan ragam makna filosofis dan upaya pelestarian yang masif, diharapkan generasi muda tetap mengenal dan mencintai warisan budaya ini.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia, Kompas.com, Mmc.kalteng.go.id

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU