KALSEL – Di balik lebatnya Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, hidup sekelompok masyarakat yang menyatu dengan alam: Orang Bukit atau Urang Bukit. Mereka adalah sub-suku Dayak yang telah berabad-abad menjadi penjaga hutan, dengan kearifan lokal yang mengajarkan keseimbangan antara manusia dan lingkungan. Artikel ini mengupas identitas, budaya, dan tantangan yang dihadapi oleh komunitas adat ini.
Siapa Orang Bukit?
Orang Bukit adalah sebutan kolektif bagi sub-suku Dayak yang mendiami Pegunungan Meratus. Mereka tersebar dari Kabupaten Tapin hingga Kotabaru, hidup secara semi-nomaden dengan rumah panggung yang berpindah sesuai musim tanam . Nama "Bukit" sendiri berasal dari kosakata lokal yang berarti "bagian bawah pohon," melambangkan mereka sebagai cikal bakal masyarakat di wilayah tersebut.
Asal-Usul dan Populasi
Baca juga: Keunikan dan Makna Mendalam Pernikahan Adat Banjar
Menurut sejarah lisan, Orang Bukit merupakan keturunan Dayak Ma’anyan dan Lawangan yang bermigrasi ke Meratus ratusan tahun lalu. Saat ini, populasi mereka diperkirakan mencapai puluhan ribu jiwa, terbagi dalam berbagai sub-suku seperti Dayak Pitap, Dayak Loksado, dan Dayak Alai . Interaksi dengan masyarakat dataran rendah, seperti suku Banjar, sering terjadi melalui sistem barter hasil hutan dan tekstil .
Mata Pencaharian yang Berkelanjutan
Orang Bukit mengandalkan tiga sumber utama penghidupan:
1. Ladang Berpindah: Mereka menanam padi gogo, jagung, dan ubi dengan sistem fallow (istirahat lahan) selama 6–8 tahun untuk memulihkan kesuburan tanah.
2. Hasil Hutan Bukan Kayu: Madu, rotan, dan getah karet menjadi komoditas penting, sementara lebih dari 50 jenis tanaman digunakan untuk pengobatan tradisional .
3. Berburu dan Memancing: Dilakukan dengan aturan adat ketat, seperti larangan berburu saat musim reproduksi hewan .
Kepercayaan dan Ritual Sakral
Mereka menganut Kaharingan, kepercayaan animisme yang menghormati roh leluhur dan alam. Salah satu ritual terpenting adalah Aruh Bawanang (upacara padi), yang dilakukan usai panen sebagai bentuk syukur kepada Baunghar (roh tanah) . Bagi mereka, padi bukan sekadar makanan, melainkan perwujudan nenek moyang yang harus dihormati .
Orang Bukit menerapkan sasi lokal, larangan mengambil hasil hutan di area tertentu untuk memastikan regenerasi ekosistem. Mereka juga membagi hutan menjadi tiga zona:
- Katuan Larangan: Wilayah keramat yang dilarang untuk berladang.
- Katuan Karamat: Area pemakaman leluhur.
- Bakabun Gatah: Kebun karet untuk kebutuhan ekonomi.
Baca juga: Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi: Simbol Budaya yang Sarat Makna
Meski berperan vital dalam pelestarian alam, Orang Bukit menghadapi ancaman:
- Deforestasi akibat ekspansi perkebunan sawit dan pertambangan.
- Migrasi Generasi Muda ke kota, mengikis pengetahuan tradisional.
Upaya pelestarian pun digalakkan, seperti kolaborasi dengan LSM dan pemerintah untuk mendokumentasikan adat melalui "sekolah kehidupan" di desa-desa Meratus.
Orang Bukit adalah contoh nyata harmonisasi manusia dan alam. Kearifan mereka dalam mengelola hutan patut menjadi pelajaran bagi dunia modern. Namun, tanpa dukungan kebijakan yang kuat, budaya unik ini bisa punah tertinggal zaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Geopark Meratus, Scholar.google.co.id