Selasa, 29 JULI 2025 • 19:42 WIB

Gaya Bahasa Orang Banjar Asli vs. Pembelajar Bahas Banjar

Author

Pasar Terapung (Pinterest/Beth)

Bahasa Banjar, sebagai salah satu bahasa daerah terbesar di Indonesia, tidak hanya menjadi identitas budaya masyarakat Kalimantan Selatan tetapi juga menarik minat banyak orang luar untuk mempelajarinya. Namun, ada perbedaan mencolok antara cara penutur asli dan pembelajar dalam menggunakan bahasa ini - mulai dari kosakata, intonasi, hingga kesantunan. Artikel ini mengupas kekhasan tersebut dengan pendekatan yang informatif namun tetap mengalir alami.  

Bahasa Banjar memiliki dua dialek utama: Banjar Kuala (digunakan di wilayah pesisir seperti Banjarmasin dan Martapura) dan Banjar Hulu (khas daerah aliran sungai seperti Amuntai dan Kandangan). Keduanya berbeda dalam pengucapan dan kosakata, tetapi saling dipahami. Sebagai bahasa yang hidup, Banjar tidak hanya dipakai dalam percakapan sehari-hari tetapi juga dalam sastra lisan seperti madihin (puisi tradisional) dan upacara adat.  

Baca juga: Bahasa Banjar yang Terbagi Dua Dialek Dengan Kaunikannya, Mari Kenali Lebih Dalam!

Ciri Khas Penutur Asli Banjar  

1. Kosakata Lokal yang Kaya  
Penutur asli fasih menggunakan kata-kata yang sulit ditemukan padanannya dalam bahasa lain. Misalnya:  
- "Intil" (hampir jatuh)  
- "Himaung" (merasa kesal tetapi tidak diungkapkan)  
- "Manyarah" (menyerah)  

Idiom seperti "jangan kada ingat disimpan" (jangan lupa menyimpan) juga menunjukkan keunikan struktur kalimat Banjar yang berbeda dari bahasa Indonesia.  

2. Morfologi yang Dinamis  
Penutur asli mahir menggunakan afiksasi (imbuhan) seperti:  
- ba-: ba-subuh (melaksanakan salat Subuh)  
- maN-: mangan (makan)  
- paN-: panyarah (penyerah)  

Reduplikasi (pengulangan kata) juga sering dipakai untuk mempertegas makna, misalnya "kuriak-kuriak" (terus-menerus memanggil).  

3. Intonasi dan Kesantunan yang Khas  
Dialek Banjar Hulu cenderung memiliki intonasi lebih "melonjak", sementara Banjar Kuala lebih datar. Selain itu, penutur asli terampil memilih kata sopan seperti:  
- "Ulah" (jangan) sebagai pengganti larangan kasar  
- "Mohun" (tolong) untuk permintaan halus  
- "Ampun" (maaf) sebagai bentuk permohonan maaf yang lebih dalam  

Bagaimana Orang Luar Belajar Bahasa Banjar?  

1. Bergantung pada Buku Teks  
Pembelajar sering mengandalkan materi formal seperti "Nomina Bahasa Banjar" (R. Effendi, 1998) yang memisahkan tata kata dalam kategori gramatikal. Hal ini membuat mereka cenderung menerjemahkan langsung dari bahasa Indonesia, misalnya:  
- "Tolong ambilkan itu" menjadi "Mohun ambilakan itu" (sedangkan penutur asli mungkin menggunakan "Tolong kambulkan").  

2. Kosakata Dasar sebagai Fokus Awal  
Kata seperti "ulun" (saya), "ikam" (kamu), dan "sidin" (dia) menjadi prioritas. Namun, tanpa pemahaman budaya, mereka sering salah menggunakan idiom. Contoh:  
- "Bungas" (cantik) diucapkan dengan intonasi datar, sementara penutur asli memberi penekanan pada suku kata pertama.  

Baca juga: Mengenal Bahasa Banjar Dengan Kosakata Sehari-hari dan Keunikannya

3. Aksen yang "Terbawa" Bahasa Ibu  
Pembelajar dari Jawa cenderung melafalkan /k/ akhir seperti /g/ (misal: "bukak" menjadi "bukag"). Mereka juga kesulitan dengan partikel seperti "lah" dan "kan", yang sering diabaikan.  

Perbandingan Langsung: Asli vs. Pembelajar 

Aspek Penutur Asli Pembelajar (Orang Luar)
Kosakata Kaya idiom lokal (intil, himaung) Fokus pada kata dasar (ulun, ikam)
Afiksasi Alami (ba-, maN-) Terstruktur, kadang kaku
Intonasi Dialek khas (Kuala/Hulu) Terpengaruh bahasa ibu (Jawa/Indonesia)
Kesantunan Ungkapan adat (mohun, ampun) Terjemahan langsung ("tolong", "maaf")

Bagi pembelajar, interaksi langsung dengan penutur asli - misalnya di pasar terapung atau warung kopi - akan membantu memahami nuansa budaya. Sementara penutur asli bisa berperan aktif mendokumentasikan idiom dan rekaman percakapan untuk bahan pembelajaran yang lebih hidup.  

Dengan memahami perbedaan ini, kita tidak hanya menghargai kekayaan bahasa Banjar tetapi juga membantu pelestariannya di tengah arus globalisasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Effendi, R. (1998). Nomina Bahasa Banjar. Kemendikbud., Pertama Tugas Di Luar Jawa, Langsung Belajar Bahasa Banjar. Prokal Sampit, 21 Nov 2019., Zakiah, Z. (2022). Faktor Pemertahanan Bahasa Banjar Pada Masyarakat. Prosiding Semantiks.

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU