KALSEL - Kuliner Nusantara, Kue Putri Salat menonjol sebagai salah satu hidangan tradisional khas Suku Banjar yang penuh filosofi. Dengan perpaduan warna coklat dan putih, serta rasa gurih-manis yang khas, kue ini tetap lestari meski zaman terus berubah.
Ciri Khas dan Bahan Pembuatan
Kue Putri Salat terdiri dari dua lapisan yang saling melengkapi:
- Lapis Coklat (Bawah)
Lapisan ini terbuat dari campuran tepung beras, gula merah, dan santan yang dimasak hingga kental. Warna coklatnya yang pekat berasal dari gula merah yang memberikan rasa manis legit. Teksturnya lembut namun padat, dengan aroma karamel yang menggoda. - Lapis Putih (Atas)
Dibuat dari ketan putih yang dimasak dengan santan dan sedikit garam, lapisan ini memberikan keseimbangan rasa. Teksturnya yang pulen dan sedikit lengket menjadi pelengkap sempurna untuk lapisan coklat yang manis.
Perpaduan lapisan ini menciptakan pengalaman rasa yang manis dari gula merah berpadu dengan santan, membuat setiap gigitan terasa istimewa.
Baca juga: Lupis Banjar, Kue Tradisonal Manis yang Wajib Kamu Coba!
Nama "Putri Salat" bukan tanpa arti. Kata "Putri" melambangkan keanggunan dan keindahan, sesuai tampilan kue yang rapi dan menarik. Sementara "Salat" memiliki dua tafsiran:
- "Selat" Menggambarkan pembagian dua lapisan kue yang seperti dipisahkan oleh selat.
- "Salat" (dalam konteks agama Islam) Kue ini kerap disajikan dalam acara keagamaan, seperti buka puasa atau selamatan, sehingga namanya diyakini mengandung nilai spiritual.
Beberapa orang juga menyebutnya kue talam karena cara pembuatannya yang menggunakan loyang (talam). Namun, nama Putri Salat tetap lebih populer di kalangan masyarakat Banjar.
Kue ini bukan sekadar camilan biasa. Ia hadir dalam berbagai momen penting, seperti:
- Selamatan (syukuran kelahiran, pernikahan, atau kematian).
- Hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha) sebagai hidangan untuk tamu.
- Sarapan pendamping teh atau kopi di pagi hari.
Baca juga: Kelalapon, Kue Tradisional Banjar yang Kaya Rasa dan Makna
Keberadaannya di pasar tradisional Banjar menunjukkan betapa kue ini masih dijaga kelestariannya.
Kue Putri Salat justru lebih sederhana namun kaya rasa, dengan dominasi gula merah dan ketan yang menjadi signature-nya.
Kue Putri Salat adalah cerita dan nilai budaya dimana setiap lapisannya bukan hanya tentang rasa, tapi juga cerita dan nilai-nilai budaya yang diwariskan turun-temurun. Dengan terus dilestarikan, kue ini tetap menjadi kebanggaan Suku Banjar. Jika Anda berkunjung ke Kalimantan Selatan, jangan lupa mencicipi keunikan rasanya!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kalimantan Selatan, Lestari, W. (2019). Makna Simbolik Kue Tradisional Banjar. Jurnal Budaya Nusantara., Pasar Terapung Martapura: Catatan Kuliner Banjar (2021).