Kue Lupis khas Banjar yang manis memanjakan lidah (Dok. Ilustrasi AI)
Di antara 41 kue tradisional khas Banjar, lupis menonjol sebagai hidangan yang sederhana namun memikat. Terbuat dari beras ketan, dibungkus daun pisang, dan disajikan dengan kelapa parut serta kuah gula merah, lupis bukan sekadar camilan—ia adalah warisan budaya yang menyimpan filosofi mendalam.
Ciri Khas Lupis Banjar
Meskipun lupis juga dikenal di Jawa, versi Banjar memiliki keunikan tersendiri. Beras ketan yang direndam air kapur sirih memberinya tekstur kenyal dan padat. Penyajiannya pun khas: lupis digulingkan dalam kelapa parut kukus yang diberi garam, lalu disiram saus kinca (gula merah cair) yang legit. Bentuknya biasanya segitiga atau lonjong, hasil dari teknik membungkus daun pisang secara khusus.
Baca juga: Pais Pisang Dengan Kelezatan dan Makna Filosofis Kue Tradisional Banjar
Dulu, lupis kerap hadir dalam acara adat sebagai simbol harapan agar acara berjalan lancar. Kini, kue ini lebih sering dinikmati sebagai sarapan atau teman minum teh.
Bahan dan Proses Pembuatan
Lupis Banjar terdiri dari tiga elemen utama:
Proses pembuatannya memakan waktu, dimulai dari merendam ketan dalam air kapur sirih selama 1-2 jam. Setelah ditiriskan, ketan dibungkus daun pisang dengan rapat agar tidak kemasukan air, lalu direbus selama 2-3 jam hingga padat. Sementara lupis dingin, kelapa parut dikukus dan saus kinca dimasak hingga kental.
Baca juga: Dadar Gulung Khas Banjar Si Kue Tradisional yang Kaya Cita Rasa dan Makna
Lupis bukan hanya soal kenikmatan. Tekstur ketan yang lengket melambangkan persatuan dan keharmonisan. Dalam budaya Banjar, kue ini menjadi simbol eratnya tali silaturahmi. Kesederhanaannya juga mengajarkan bahwa hal-hal kecil sering kali bernilai tinggi.
Di tengah gempuran makanan modern, lupis Banjar bertahan karena keaslian rasanya. Jika berkunjung ke Kalimantan Selatan, jangan lewatkan mencicipi kue tradisional ini—atau, lebih baik lagi, coba buat sendiri di rumah!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kalimantan Selatan, Tim Penulis Kuliner Nusantara, Saptarini, D. (2019). Makna Simbolik Makanan Adat Banjar. Jurnal Antropologi Sosial.