Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 25 JULI 2025 • 16:22 WIB

Kelalapon, Kue Tradisional Banjar yang Kaya Rasa dan Makna

 Kelalapon, Kue Tradisional Banjar yang Kaya Rasa dan MaknaKelalapon, Kue Tradisional Khas Banjar. (Pinterest/thefamilypreneur) 

Di antara 41 jenis kue tradisional Banjar, kelalapon menonjol karena warna hijaunya yang cerah dan cita rasa manis-gurih yang khas. Kue ini tidak hanya digemari di Kalimantan Selatan, tetapi juga menjadi bagian dari warisan kuliner Nusantara yang patut dilestarikan. Mari mengenal lebih dalam asal-usul, filosofi, dan keunikan kelalapon.  

Asal-usul dan Makna Filosofis

Nama "kelalapon" diduga berasal dari kata "lapat" atau "lepat", merujuk pada tradisi membungkus kue dengan daun pisang. Mirip dengan klepon Jawa, kelalapon menjadi bukti adanya pertukaran budaya antar daerah di masa lalu.  

Dalam adat Banjar, kue ini sering hadir dalam acara syukuran atau selamatan. Warna hijaunya, yang berasal dari daun pandan atau suji, melambangkan kesuburan dan kesegaran, sementara gula merah di dalamnya menjadi simbol manisnya rezeki. Taburan kelapa parut menggambarkan kesederhanaan dan kemakmuran—nilai-nilai yang dijunjung tinggi masyarakat Banjar.

Baca juga: Pais Pisang Dengan Kelezatan dan Makna Filosofis Kue Tradisional Banjar

Bahan dan Cara Pembuatan yang Unik  

Kelalapon dibuat dari bahan-bahan sederhana, tetapi prosesnya membutuhkan ketelatenan:  

1. Adonan. Tepung ketan diuleni dengan air hangat, air daun pandan, dan sedikit garam hingga kalis.  
2. Isian. Potongan gula merah dimasukkan ke dalam adonan yang telah dibulatkan.  
3. Perebusan. Kue direbus hingga mengapung—tanda bahwa kelalapon sudah matang.  
4. Finishing. Gulingkan kue ke dalam kelapa parut yang telah dikukus agar lebih awet dan gurih.  

Teksturnya yang kenyal, sensasi gula merah yang lumer, dan aroma pandan yang harum menjadi ciri khas yang sulit ditiru.  

Meski identik dengan warna hijau, beberapa kreator kuliner membuat varian baru, seperti kelalapon ungu dari ubi atau warna-warni alami. Namun, versi tradisional tetap paling diminati.  

Di era modern, kelalapon tidak hanya dijajakan di pasar tradisional, tetapi juga muncul di kafe kekinian dan acara resmi pemerintah. Kue ini sering dihidangkan bersama teh atau kopi, membuktikan bahwa kuliner tradisional bisa tetap relevan.  

Baca juga: Manisnya Apam Banjar, Nikmatnya Budaya yang Terwariskan

Pelestarian sebagai Warisan Budaya  

Kelalapon kerap menjadi duta kuliner Banjar di festival budaya atau promosi pariwisata. Keberadaannya tidak sekadar camilan, tetapi juga penjaga identitas lokal di tengah gempuran makanan modern.  

Dari segi kesehatan, penggunaan bahan alami seperti pandan dan gula merah membuat kelalapon relatif lebih sehat dibanding kue berbahan pengawet. Namun, konsumsinya tetap perlu dibatasi karena kandungan gula dan tepung ketan yang tinggi.   

Kelalapon bukan sekadar kue, melainkan simbol kebersamaan dan harapan masyarakat Banjar. Dengan terus mendukung kuliner lokal, kita turut menjaga warisan budaya yang sarat makna ini.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kalimantan Selatan, Wawancara, Sastrawan, A. (2022). Kuliner Nusantara: Jejak Rasa Dan Makna. Penerbit Budaya.

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kelalapon, Kue Tradisional Banjar yang Kaya Rasa dan Makna

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!