Minggu, 27 JULI 2025 • 09:00 WIB

Wadai Gayam, Kue Legit Khas Banjar!

Author

Kue tradisional khas Banjar, Wadai Gayam (Dok. Ilustrasi AI)

KALSEL - Di tengah pesatnya perkembangan kuliner modern, masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan tetap setia melestarikan warisan leluhur melalui Wadai Gayam, salah satu dari 41 jenis kue tradisional dalam budaya Wadai Banjar. 

Asal-Usul dan Makna Filosofis

Wadai Gayam merupakan bagian dari tradisi Wadai 41 Macam, yang telah ada sejak era Kerajaan Negara Dipa dan Kesultanan Banjar. Dahulu, kue-kue ini disajikan sebagai sesajian dalam upacara adat untuk memohon keselamatan dan ketenangan dari gangguan makhluk halus. Seiring waktu, fungsinya bergeser menjadi hidangan dalam acara syukuran, pernikahan, atau penyambutan tamu.  

Setiap warna pada Wadai 41 Macam memiliki makna tersendiri:  

  • Merah (dari gula merah): melambangkan keberanian.  
  • Putih (tanpa pewarna): simbol kesucian.  
  • Hijau (daun pandan/suji): pertanda kesuburan.  
  • Kuning (kunyit): lambang keagungan .  

Meski tak banyak catatan tertulis tentang makna filosofis Wadai Gayam, kehadirannya dalam rangkaian Wadai 41 Macam justru menjadi bukti nyata semangat kebersamaan khas urang Banjar. Dalam tradisi mawarung, kue kenyal ini menjadi teman setia obrolan panjang - menemani guyuran cerita sambil sesekali diselingi tegukan kopi hitam pekat atau teh hangat yang membasahi kerongkongan.

Baca juga: 3 Jenis Sajian Kopi yang Menggugah Selera Khas Kalimantan Selatan!

Bahan dan Cara Pembuatan yang Unik

Wadai Gayam terbuat dari bahan sederhana namun menghasilkan cita rasa yang khas. Berikut resep dan teknik pembuatannya:  

1. Adonan Dasar 

  • Campurkan tepung ketan, garam, dan air kapur sirih (untuk tekstur kenyal), lalu uleni dengan air sedikit demi sedikit hingga kalis .  
  • Bentuk adonan menjadi bulatan kecil seukuran kelereng.  

2. Proses Pemanggangan  

  • Rebus bulatan adonan dalam air mendidih yang diberi sedikit minyak hingga mengapung—tanda adonan matang. Angkat dan tiriskan .  

3. Inti Kelapa Manis 

  • Masak gula merah, gula pasir, garam, dan daun pandan dengan air hingga mengental.  
  • Tambahkan kelapa parut, aduk rata hingga membentuk inti yang legit.  
  • Campurkan bulatan ketan dengan inti kelapa sebelum disajikan .  

Perbedaan utama Wadai Gayam dengan kue serupa seperti gegatas atau kue kiping terletak pada penyajiannya. Wadai Gayam diaduk langsung dengan inti kelapa, sehingga rasa manis dan gurih menyatu sempurna.  

Baca juga: Gagatas Si Kue Tradisional Banjar yang Kaya Rasa dan Makna

Kini, Wadai Gayam tidak hanya ditemukan di acara adat, tetapi juga dijajakan di pasar tradisional seperti Pasar Ahad Kertak Hanyar, Banjarmasin . Upaya pelestarian juga dilakukan melalui festival seperti Ramadhan Cake Fair, yang memperkenalkan kue-kue Banjar kepada generasi muda dan wisatawan .  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Cookpad, Wikipedia, Budaya-indonesia.org

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU