Gunung Halau-halau di ketinggian 1.901 MDPL (Youtube/Canro Sinarmata)
Pulau Kalimantan, salah satu paru-paru dunia dengan hutan hujan tropisnya yang luas, menyimpan teka-teki dalam namanya. Mengapa dalam konteks internasional, pulau ini lebih dikenal sebagai Borneo, sementara di Indonesia justru disebut Kalimantan? Jawabannya terletak pada lorong waktu yang mengantar kita pada era pelayaran dan perdagangan rempah abad pertengahan.
Teori paling kuat dan luas diterima oleh para sejarawan menunjuk Kesultanan Brunei sebagai asal muasal nama "Borneo" . Pada abad ke-16, ketika para penjelajah dan pedagang Portugis serta Spanyol mulai menjelajahi perairan Asia Tenggara, mereka pertama kali berhubungan dengan kerajaan maritim yang berpengaruh dan makmur di pesisir utara pulau itu, yaitu Brunei.
Nama "Brunei" atau "Burnei" dalam pelafalan lokal kemudian diadopsi dan disesuaikan oleh lidah Eropa menjadi "Borneo" . Para kartografer (pembuat peta) Eropa saat itu kemudian menggunakan nama yang mereka kenal dari titik kontak pertama ini untuk memberi label pada seluruh pulau di peta-peta mereka. Lambat laun, sebutan Borneo pun menyebar dan menjadi standar dalam literatur-literatur Barat .
Sebelum menjadi "Borneo", nama Brunei sendiri diduga memiliki akar yang lebih dalam. Beberapa ahli linguistik menghubungkannya dengan bahasa Sanskerta. Salah satu teori menyebutkan bahwa "Borneo" mungkin berasal dari kata "varuṇa" (वरुण), yang dalam kepercayaan Hindu adalah dewa lautan, atau secara harfiah berarti "air" . Teori lain menyebutkan "Borneo" bisa jadi berasal dari kata "bhūmi" yang berarti "tanah" atau "daratan" . Adaptasi linguistik inilah yang kemudian melahirkan sebutan-sebutan awal untuk kerajaan di utara pulau tersebut.
Sementara "Borneo" populer di dunia internasional, penduduk setempat di bagian timur dan selatan pulau telah lama menggunakan sebutan Kalimantan. Asal-usul nama ini juga beragam.
Salah satu teori yang populer adalah bahwa Kalimantan berasal dari kata dalam bahasa Sanskerta "Kalamanthana", yang berarti "pulau dengan cuaca yang sangat panas", merujuk pada iklim tropisnya yang lembap dan membakar . Versi lainnya menyebutkan bahwa "Kalimantan" berkaitan dengan nama sejenis pohon mangga (Mangifera) yang tumbuh di daerah tersebut .
Baca juga: Misteri Daratan Pertama di Bumi: Jejak Zaman Hadean di Australia dan Kanada
Dalam perkembangannya, penggunaan kedua nama ini pun mengalami spesialisasi. Borneo menjadi nama yang digunakan secara internasional untuk menyebut keseluruhan pulau . Sementara dalam konteks Indonesia, Kalimantan memiliki dua makna: dalam arti luas berarti seluruh pulau Borneo, dan dalam arti sempit hanya merujuk pada wilayah Indonesia yang mencakup lima provinsi di pulau tersebut .
Jadi, penamaan "Borneo" untuk pulau Kalimantan adalah sebuah produk dari sejarah kontak global. Nama itu tidak muncul dengan sendirinya, melainkan hasil dari proses adaptasi linguistik oleh pedagang dan penjelajah Eropa terhadap nama Kesultanan Brunei (Brunei), yang pada gilirannya mungkin juga berakar dari kata-kata dalam bahasa Sanskerta . Kisah ini menunjukkan bagaimana sebuah nama dapat menjadi jejak yang merekam pertemuan antarbangsa dan perjalanan sejarah yang panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Kompas