Pernikahan adat Banjar (Pinterest/ruangyuth)
KALSEL - Suku Banjar, atau yang dalam bahasa setempat disebut Urang Banjar, merupakan salah satu kelompok etnis pribumi utama yang berasal dari Kalimantan Selatan. Dengan populasi jutaan jiwa, komunitas ini tidak hanya mendominasi wilayah Banua Banjar, tetapi juga telah menyebar ke berbagai penjuru Nusantara dan bahkan menjadi bagian dari diaspora global di Malaysia, Brunei, dan Singapura. Keberadaan mereka adalah cerita panjang tentang akulturasi, perdagangan, dan kearifan lokal yang berpadu harmonis.
Akar sejarah Suku Banjar adalah sebuah mozaik hasil perpaduan berbagai kelompok etnis. Mereka terbentuk dari proses asimilasi yang mendalam antara suku-suku Dayak asli, seperti Dayak Maanyan, Bukit, Ngaju, dan Lawangan, dengan pengaruh budaya Melayu dan Jawa yang datang kemudian. Proses ini memunculkan identitas khas yang kita kenal sekarang.
Pada abad ke-14, sebuah babak penting dimulai dengan berdirinya Kerajaan Negara Dipa oleh Ampu Jatmika, seorang bangsawan dari Jawa. Kerajaan ini kemudian berkembang menjadi Negara Daha. Puncak transformasi terjadi pada awal abad ke-16 ketika Pangeran Samudera memeluk Islam dan mendirikan Kesultanan Banjarmasin pada tahun 1526, dengan dukungan Kesultanan Demak. Peristiwa ini menandai awal dominasi Islam sebagai landasan spiritual dan sosial masyarakat Banjar, sekaligus mengukuhkan Banjarmasin sebagai pusat perdagangan yang penting di Kalimantan.
Baca juga: Dayak di Kalimantan Selatan: Merentang Identitas dari Pegunungan Meratus hingga Delta Barito
Jiwa masyarakat Banjar tidak dapat dipisahkan dari sungai. Sungai-sungai besar seperti Barito dan Martapura bukan hanya urat nadi transportasi, tetapi juga jantung ekonomi dan kebudayaan. Kearifan sungai ini melahirkan tradisi unik seperti Pasar Terapung, di mana aktivitas jual beli terjadi di atas perahu-perahu yang menghiasi sungai. Filsafat hidup mereka juga mencerminkan keseimbangan dengan alam, dengan nilai-nilai seperti baiman (beriman), bauntung (beruntung), dan batuah (berwibawa).
Bahasa Banjar (Basa Banjar) merupakan cabang dari rumpun bahasa Melayik dalam keluarga Austronesia. Bahasa ini berfungsi sebagai lingua franca di banyak wilayah Kalimantan dan memiliki beberapa dialek utama, seperti Banjar Kuala (dialek daerah pesisir) dan Banjar Hulu (dialek daerah pedalaman).
Baca juga: Dayak dan Banjar: Dua Saudara Kandung dengan Identitas Berbeda di Kalimantan
Semangat merantau orang Banjar telah membawa mereka jauh melampaui tanah kelahiran. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, gelombang migrasi untuk tujuan ekonomi membawa masyarakat Banjar ke Semenanjung Malaya, terutama ke negara bagian Perak, Johor, dan Selangor. Di perantauan, mereka tidak hanya berkontribusi dalam sektor pertanian dan ekonomi, tetapi juga berintegrasi dengan masyarakat setempat sambil tetap mempertahankan identitas bahasa dan kuliner khas mereka.
Suku Banjar adalah contoh nyata masyarakat Nusantara yang dinamis. Identitas mereka dibentuk oleh sejarah panjang yang merangkum unsur-unsur lokal (Dayak), regional (Melayu), dan global (Jawa, Islam). Dari pusat peradaban sungai di Kalimantan, mereka telah berlayar mengarungi zaman, meninggalkan warisan budaya yang terus dikenang dan dilestarikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Jurnal Antropologi