Ilustrasi Pegunungan Meratus (Dok. AI)
KALSEL - Di jantung Kalimantan Selatan, membentang sebuah pemukim kehidupan—Pegunungan Meratus. Lebih dari sekadar hamparan hijau, ia adalah raksasa yang ramah, menjadi sumber mata air bagi banyak sungai yang mengalir di provinsi ini. Ia bukanlah satu titik ajaib, melainkan sebuah ekosistem utuh yang dengan murah hati membagi kehidupan kepada siapa saja yang dilintasinya.
Di sebuah kampung di Desa Hinas Kanan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, hiduplah seorang lelaki bernama Madi. Pada 2014, dengan ketekunan yang lahir dari kesehariannya berburu, Madi menemukan sebuah sumber mata air di sebuah bukit yang dinamai Gunung Hapuk. Sebelum penemuan ini, warga harus berjalan belasan kilometer turun gunung hanya untuk mendapatkan air bersih.
Mata air itu mengubah segalanya. Madi dan warga dengan swadaya membangun bendungan tradisional, mengumpulkan batu, pasir, dan sedikit semen untuk menampung air kehidupan tersebut. Pemerintah lalu membantu dengan memberikan pipa untuk mengalirkan air hingga ke pemukiman, mengubah perjalanan berjam-jam menjadi hanya beberapa langkah dari rumah. Kisah Gunung Hapuk adalah contoh nyata bagaimana satu titik mata air di lereng Meratus dapat menjadi denyut nadi bagi kehidupan komunitas di sekitarnya.
Baca juga: Kalimantan Selatan: Pesona Permata dan Warisan Budaya di Atas Sungai
Pegunungan Meratus bukanlah pegunungan biasa. Ia adalah hamparan ofiolit tertua di Indonesia, yang terbentuk dari proses geologi rumit selama 150-200 juta tahun. Keunikan inilah yang menjadikannya "laboratorium alam" dengan beragam manifestasi air.
Salah satunya adalah Mata Air Panas Tanuhi di Loksado. Berbeda dengan mata air panas pada umumnya, Tanuhi adalah sistem non-vulkanik. Air panasnya berasal dari proses peluruhan radioaktif alami dalam batuan granit berusia 95-135 juta tahun, bukan dari aktivitas gunung berapi. Fenomena langka ini merupakan bagian dari 54 situs Geopark Pegunungan Meratus yang sedang diajukan untuk diakui UNESCO.
Lantas, bagaimana satu pegunungan bisa terhubung dengan banyak sungai?
Pegunungan Meratus membentang sepanjang sekitar 600 kilometer, membelah Kalimantan Selatan dan melewati delapan kabupaten. Posisinya yang strategis dan topografinya yang tinggi menjadikannya pusat tangkapan air hujan yang sangat efektif. Air yang tertangkap di ketinggian ini kemudian meresap, disaring oleh lapisan batuan purba, dan muncul sebagai mata air-mata air jernih di berbagai lereng.
Baca juga: Menyusuri Pulau Kaget: Surga Tersembunyi bagi Bekantan di Tengah Sungai Barito
Mata air-mata air inilah—seperti yang di Gunung Hapuk, Gunung Sialing di Tabalong, dan lainnya—yang menjadi hulu bagi anak-anak sungai tanpa nama, yang kemudian menyatu membentuk sungai-sungai besar. Aliran-aliran ini pada akhirnya berkontribusi pada sistem sungai besar di Kalimantan Selatan, seperti Barito dan Martapura. Dalam budaya Dayak Meratus, keyakinan untuk menjaga kelestarian kawasan ini, terutama Gunung Besar (puncak tertinggi Meratus), telah diwariskan turun-temurun. Mereka meyakini kawasan ini sebagai pusat penyangga sumber mata air yang tidak boleh diganggu.
Tekad untuk melestarikan Meratus tidak hanya hidup dalam kearifan lokal. Pemerintah daerah memiliki komitmen revolusi hijau, termasuk larangan aktivitas pertambangan dan program wajib menanam pohon bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Upaya pembangunan berkelanjutan juga diwujudkan dengan perencanaan Bendungan Pancur Hanau oleh Kementerian PUPR, yang akan memanfaatkan air dari kawasan ini untuk mengamankan pasokan air bersih dan mendukung ketahanan pangan.
Pegunungan Meratus mengajarkan bahwa air yang kita minum hari ini adalah warisan dari bentang alam purba yang tetap setia menjalankan tugasnya. Menjaga Meratus berarti menjaga rahim yang telah melahirkan begitu banyak kehidupan di Kalimantan Selatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA, Meratus Geopark, Indonesia.go.id