Ilustrasi Pegunungan Meratus (Dok. AI)
Pegunungan Meratus bukan sekadar hamparan hijau yang membelah Kalimantan Selatan. Di balik pesonanya, tersimpan kekayaan alam yang membuatnya menjadi incaran perusahaan penambangan. Lantas, apa sebenarnya yang tersembunyi di perut bumi Meratus sehingga terus menggoda industri ekstraktif?
Meratus merupakan sebuah geopark nasional yang terbentuk dari hamparan ofiolit tua, sebuah kerak samudera yang terangkat ke permukaan sejak 150-200 juta tahun lalu . Proses geologis yang unik dan sangat tua inilah yang menciptakan beragam sumber daya mineral bernilai tinggi.
Ketertarikan utama perusahaan tambang berasal dari cadangan batubara yang sangat besar. Berdasarkan data Kementerian ESDM, realisasi produksi batubara Kalimantan Selatan pada 2008 saja mencapai 71,9 juta ton, dengan proyeksi peningkatan yang konsisten . Kualitasnya pun beragam, dengan nilai kalori (adb) antara 3.578-7.298 kkal/kg.
Baca juga: Pegunungan Meratus: Air yang Menghidupi Banyak Sungai di Kalimantan Selatan
Fakta inilah yang mendorong penerbitan berbagai konsesi pertambangan, seperti yang pernah diberikan kepada PT Mantimin Coal Mining (MCM) seluas 5.900 hektare sebelum dibatalkan Mahkamah Agung .
Selain batubara, Meratus menyimpan intan berkualitas tinggi. Kawasan Pendulangan Intan Tradisional Cempaka di Desa Pumpung telah melahirkan intan legendaris, termasuk Intan Trisakti seberat 166,75 karat yang ditemukan pada 1965 . Aktivitas penambangan intan secara tradisional telah berlangsung sejak abad ke-9 Masehi dan terus berlanjut hingga kini, membuktikan bahwa Meratus masih "bertabur intan" . Proses pembentukan intan ini terkait erat dengan sejarah geologis Meratus, yang membawa material dari kedalaman sekitar 200 kilometer ke permukaan .
Kekayaan Meratus tidak berhenti di situ. Kawasan ini juga mengandung berbagai mineral lain seperti bijih besi, titanium, kromit, dan emas. Kombinasi sumber daya yang melimpah ini menciptakan tekanan eksploitasi terus-menerus, yang memicu maraknya pertambangan ilegal di berbagai titik Pegunungan Meratus .
Baca juga: Sungai, Permata, dan Komunalitas: Menelusuri Jejak Gaya Hidup Masyarakat Kalimantan Selatan
Eksploitasi sumber daya Meratus tidak datang tanpa konsekuensi. Pembukaan kawasan untuk tambang berpotensi merusak fungsi aquifer air di ekosistem karst, mengganggu sumber air Sungai Batang Alai yang dimanfaatkan untuk irigasi pertanian, perikanan, dan air minum .
Masyarakat lokal, organisasi lingkungan seperti Walhi, dan pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya perlawanan. Gerakan #SaveMeratus mengemuka sebagai bentuk penolakan terhadap aktivitas tambang dan perkebunan sawit . Pada 2019, Mahkamah Agung memenangkan gugatan Walhi dengan membatalkan keputusan izin produksi PT MCM, menjadi kemenangan signifikan bagi para pegiat lingkungan .
Pemerintah daerah kini berfokus pada pelestarian Meratus melalui pendekatan berbeda. Status Geopark Nasional yang telah diraih dan proses pengajuan menjadi UNESCO Global Geopark menjadi strategi untuk melindungi Meratus dengan memberikan nilai lebih pada aspek konservasi dan wisata berkelanjutan .
Baca juga: Kalimantan Selatan: Pesona Permata dan Warisan Budaya di Atas Sungai
Sementara itu, Dinas ESDM Kalimantan Selatan mulai memperketat pengawasan dengan mengingatkan 112 perusahaan tambang untuk memenuhi kewajiban reklamasi pascatambang , meski langkah ini masih harus dibuktikan implementasinya.
Pegunungan Meratus kini berada di persimpangan jalan. Ia adalah rahim harta karun yang mampu memacu pertumbuhan ekonomi, sekaligus bentang alam kritis yang menentukan kelestarian lingkungan dan keberlanjutan hidup masyarakat di sekitarnya. Pilihan yang diambil hari ini akan menentukan apakah Meratus akan menjadi sumber bencana di masa depan, atau warisan berharga untuk generasi mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mongabay, Antara News, Media Indonesia