Suku dayak dan Suku Banjar yang sedang menari bersama (Pinterest/Albertus Rico)Suku Banjar, yang sebagian besar mendiami Kalimantan Selatan, terbentuk melalui proses asimilasi panjang antara pendatang Melayu dan kelompok indigenous Borneo, khususnya Dayak Ma’anyan. Kajian genetika oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman mengungkap bahwa komposisi genetik Suku Banjar terdiri dari 75% unsur Melayu (yang bermigrasi dari Semenanjung Malaysia dan Sumatera) dan 25% unsur Dayak, terutama Dayak Ma’anyan . Proses percampuran ini terjadi sekitar abad ke-13, didorong oleh keberadaan pos dagang Sriwijaya di Kalimantan Tenggara yang menjadi pusat interaksi antar-etnis.
Bahasa Banjar, yang secara leksikal dan struktural termasuk dalam rumpun Melayu-Polinesia, juga mencerminkan percampuran ini. Bahasa tersebut banyak menyerap kosakata dan struktur dari bahasa Dayak Ma’anyan, menunjukkan bahwa integrasi budaya dan genetika berjalan beriringan .
Analisis haplogrup Y-DNA (garis paternal) pada Suku Banjar menunjukkan dominasi haplogrup O-M122 (26,7%), yang terkait dengan populasi Austronesia dan Sino-Tibet. Haplogrup lain yang signifikan adalah O-M7 (26,7%, khas Austronesia-Thai) dan O1b1a1a (26,7%, penanda Austroasia). Sementara itu, haplogrup C-B477 (13,3%) dan K-M9 (6,7%) hadir sebagai komponen minor .
Baca juga: 14 Dosen UGM Masuk Daftar 2% Ilmuwan Paling Berpengaruh di Dunia Versi Stanford
Data ini mengonfirmasi bahwa 80% garis paternal Suku Banjar berasal dari haplogrup O, yang umum ditemukan pada populasi Asia Tenggara. Hal ini sejalan dengan sejarah migrasi penutur Austronesia dari Taiwan yang menyebar ke Nusantara dan bercampur dengan kelompok lokal.
Berbeda dengan garis paternal, analisis mitokondrial (mtDNA) Suku Banjar tidak menunjukkan pola unik dan cenderung mirip dengan populasi Nusantara lainnya. Namun, studi genom autosomal justru membuka temuan mengejutkan: orang Banjar merupakan sumber utama leluhur Asia bagi penduduk Madagaskar dan Komoro di Afrika Timur .
Penelitian kolaboratif internasional yang dipimpin oleh Prof. Herawati Sudoyo (Lembaga Eijkman) dan ilmuwan dari Universitas Toulouse menganalisis 3.000 genom dari 190 populasi di sekitar Samudra Hindia. Mereka menemukan bahwa 37–64% genom Malagasi (Madagaskar) berasal dari Suku Banjar, sementara sisanya berasal dari populasi Afrika Bantu . Percampuran ini terjadi sekitar abad ke-11, didukung oleh jaringan perdagangan maritim yang menghubungkan Kalimantan dengan Afrika Timur .
Baca juga: Update Harga Ford Everest Titanium Terbaru September 2025: Mobil SUV Gagah dan Berwibawa!
Suku Banjar dikenal sebagai pelaut dan pedagang ulung. Migrasi mereka tidak hanya terjadi dalam skala regional (ke Sumatera, Malaysia, dan Jawa) tetapi juga mencapai Madagaskar yang berjarak 7.000 km. Migrasi trans-Samudra Hindia ini diduga dilakukan dengan menggunakan perahu bercadik, didukung teknologi pelayaran kerajaan maritim seperti Sriwijaya .
Yang menarik, meskipun bahasa Malagasi memiliki 90% kesamaan kosakata dengan bahasa Dayak Ma’anyan, secara genetis orang Madagaskar justru lebih dekat dengan Suku Banjar. Ini menunjukkan bahwa bahasa dibawa oleh para migran Banjar yang telah terasimilasi dengan budaya Ma’anyan, bukan oleh kelompok Dayak Ma’anyan secara langsung .
Suku Banjar bukan hanya produk akulturasi lokal, tetapi juga aktor dalam jaringan global awal yang menghubungkan Asia Tenggara dengan Afrika. Warisan genetika, bahasa, dan budaya mereka masih dapat dilacak hingga hari ini, baik di Kalimantan maupun di Madagaskar. Temuan ini memperkaya pemahaman kita tentang dinamika migrasi dan percampuran manusia yang telah berlangsung selama ribuan tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Nicolas Brucato Et Al. (Universitas Toulouse) Dalam Nature, Geopark Meratus