Rahasia Goa Batu Hapu: Surga Tersembunyi Kelelawar di Meratus UNESCO Global Geopark (mckalsel)
Kawasan Meratus UNESCO Global Geopark (UGGp) kembali membuktikan kekayaan alamnya yang luar biasa. Melalui kegiatan monitoring keanekaragaman hayati yang dilakukan oleh Badan Pengelola Geopark Meratus di Situs Goa Batu Hapu, Kabupaten Tapin, terungkap bahwa situs geologi populer ini menyimpan peran ekologis yang sangat vital. Tidak hanya memukau lewat pesona bebatuannya, gua ini ternyata menjadi rumah aman bagi berbagai spesies kelelawar.
Langkah monitoring ini menjadi bukti nyata bahwa Geopark Meratus serius dalam menjaga keseimbangan alam antara warisan geologi (geodiversity) dan keanekaragaman hayati (biodiversity).
Menyingkap Tiga Penghuni Gelap Goa Batu Hapu
Monitoring lapangan yang dipimpin oleh Biologist Badan Pengelola Geopark Meratus, Ramadhan Jayusman, bersama tim publikasi Andry Fredly serta pengelola lokal (Subianto dan Hendri), berhasil mengidentifikasi tiga spesies kelelawar yang menetap di dalam gua.
Ketiga spesies tersebut memiliki karakteristik unik dan peran penting bagi ekosistem sekitar:
Temuan awal ini menegaskan bahwa Goa Batu Hapu memiliki nilai ekologis yang sangat tinggi. Meski demikian, tim meyakini masih banyak spesies lain yang belum terdokumentasikan karena sifat satwa gua yang sangat dipengaruhi oleh musim, waktu pengamatan, dan karakter habitat. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan durasi yang lebih panjang sangat diperlukan untuk memetakan populasi secara utuh.
Alasan Geologis di Balik Kenyamanan Rumah Kelelawar
Mengapa kelelawar begitu betah berada di Goa Batu Hapu? Geologist Badan Pengelola Meratus UGGp, Aditya Rathomy, menjelaskan bahwa kondisi geologi gua ini menjadi faktor utama.
Bentang alam karst di Goa Batu Hapu memiliki tingkat kelembapan yang relatif stabil dengan kondisi lingkungan yang masih sangat alami. Keberadaan ornamen gua seperti stalaktit dan stalagmit yang terjaga dengan baik menciptakan ruang ideal bagi kelelawar untuk beristirahat, berkembang biak, dan menjalankan siklus hidupnya. Struktur eksokarst dan endokarst di kawasan ini saling berkaitan untuk menyediakan ruang hidup yang aman bagi satwa liar.
Perlindungan Jangka Panjang Melalui Regulasi Karst
Dari kacamata regulasi, pentingnya menjaga ekosistem ini disuarakan oleh Kepala Seksi Warisan Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Provinsi Kalimantan Selatan, Sumarmiati. Ia menegaskan bahwa integrasi warisan geologi ke dalam Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 17 Tahun 2012 adalah langkah krusial.
Inventarisasi menyeluruh yang telah dicicil sejak tahun 2024 menjadi pondasi kuat untuk menentukan batas perlindungan ilmiah, menjaga fungsi hidrologi penyerapan air tanah, sekaligus menyelamatkan keanekaragaman hayati yang menggantungkan hidupnya pada ekosistem gua ini.
Menuju Ekowisata Berkelanjutan yang Mendunia
Wakil Ketua Harian Badan Pengelola Meratus UGGp, Theodorik Rizal Manik, memberikan apresiasi besar terhadap penguatan basis data ilmiah ini. Menurutnya, kelelawar adalah indikator kesehatan lingkungan yang bertugas sebagai pengendali populasi serangga dan penyebar biji tanaman.
Data dari monitoring ini nantinya tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi kompas utama dalam menyusun rekomendasi kebijakan ekowisata. Tujuannya jelas: agar aktivitas wisata di Goa Batu Hapu dapat berjalan selaras tanpa merusak habitat alami yang ada.
Melalui kolaborasi lintas sektor dan penelitian yang berkelanjutan, Goa Batu Hapu diharapkan dapat terus bersinar sebagai warisan alam Meratus yang diakui dunia, di mana keindahan geologi dan denyut kehidupan liar hidup berdampingan secara harmoni.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Diskominfo Kalsel