Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 29 SEPTEMBER 2025 • 13:28 WIB

Kalimantan Selatan: Jejak Purba di Balik Kekayaan Batubara

Kalimantan Selatan: Jejak Purba di Balik Kekayaan BatubaraTambang Oranje Nassau pada masa penjajahan Belanda (Pinterest/Billy Macgeorge)

KALSEL – Kalimantan Selatan (Kalsel) telah lama dikenal sebagai salah satu lumbung energi terpenting di Indonesia. Namun, di balik kekayaan batubaranya tersimpan cerita panjang tentang kondisi geologi yang unik, yang membentuknya selama puluhan juta tahun. Artikel ini mengajak kita menyelami proses pembentukan batubara di Bumi Banua untuk memahami mengapa wilayah ini begitu istimewa.

Dari Rawa Purba ke Batubara: Sebuah Proses Panjang

Kunci dari melimpahnya batubara di Kalsel terletak pada lingkungan pada masa lalu. Pada kala Eosen, daratan yang kini menjadi Kalsel didominasi oleh cekungan sedimentasi besar, seperti Cekungan Barito, yang menjadi “wadah” bagi rawa-rawa tropis yang sangat luas .

Di bawah iklim tropis yang lembap dengan curah hujan tinggi, vegetasi tumbuh subur dan mati dalam siklus yang cepat. Jasad tumbuhan ini kemudian tertimbun di rawa-rawa dengan kondisi kadar oksigen rendah, menghambat pembusukan sempurna dan mengawali proses pembentukan gambut. Tekanan dan panas dari timbunan sedimentasi di atasnya selama jutaan tahun kemudian memampatkan dan mengubah lapisan gambut yang tebal ini menjadi batubara.

Baca juga: Pegunungan Meratus: Harta Karun yang Diperebutkan antara Tambang dan Konservasi

Yang menarik, studi pada batubara Formasi Warukin di Barito Basin menunjukkan bahwa pembentukannya didominasi oleh hutan rawa angiospermae (termasuk keluarga dipterocarpaceae) yang khas tropis, dengan sedikit campuran gymnospermae. Komposisi vegetasi purba ini turut memengaruhi karakteristik batubara yang terbentuk.

Karakteristik Batubara Kalsel: Hasil dari Proses Geologi yang Kompleks

Karakteristik fisik dan geometri lapisan batubara di Kalsel tidak seragam. Penelitian di daerah Bunati, Kabupaten Tanah Bumbu, mengungkap bahwa batubara terdapat dalam Formasi Dahor dengan sebaran yang tidak teratur, tidak menerus, menebal dan menipis, serta terpisah-pisah .

Variasi ini mencerminkan pengaruh dinamika geologi yang kompleks. Kondisi pengendapan awal (syn-depositional) seperti fluktuasi iklim purba yang memengaruhi tinggi muka air rawa, serta proses setelah pengendapan (post-depositional) seperti tekanan dan pergerakan tanah, bersama-sama membentuk “wajah” lapisan batubara yang kita temui sekarang . Struktur geologi seperti face cleat (kekar alami pada batubara) dengan arah umum N280°-N355°E juga turut memengaruhi .

Baca juga: Pegunungan Meratus: Harta Karun yang Diperebutkan antara Tambang dan Konservasi

Dari segi kualitas, batubara dari Formasi Warukin di Tutupan, Barito Basin, dikenal memiliki kadar abu dan belerang yang sangat rendah. Ini mengindikasikan bahwa gambut pembentuknya terbentuk di lingkungan ombrotrofik, yaitu lahan gambut yang tumbuh membumbung tinggi di atas permukaan air tanah sekitarnya, sehingga relatif terisolasi dari sedimentasi mineral dari luar yang menjadi pengotor .

Potensi Melampaui Ekspor Konvensional

Pemahaman mendalam tentang geologi dan karakteristik batubara Kalsel membuka peluang pemanfaatan yang lebih inovatif. Salah satunya adalah ekstraksi Gas Metana Batubara (Coal Bed Methane/CBM). CBM adalah gas alam (terutama metana) yang terbentuk dan terperangkap dalam pori-pori batubara selama proses pematangannya .

Kandungan gas ini dapat diestimasi melalui analisis data proksimat batubara. Dengan cadangan batubara peringkat rendah yang melimpah, potensi CBM di cekungan batubara seperti yang terdapat pada Formasi Muaraenim (analogi dengan Formasi di Kalsel) menawarkan cara untuk mendapatkan nilai lebih dari sumber daya yang ada sebelum ditambang. 

Baca juga: Jelajahi 9 Surga Tersembunyi Kalimantan Selatan dengan Akses Mudah

Keistimewaan batubara Kalimantan Selatan adalah sebuah narasi yang terpatri dalam lapisan-lapisan batuan, menunggu untuk terus diteliti dan dimanfaatkan dengan bijak untuk kesejahteraan bangsa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal Teknik Geologi., International Journal Of Coal Geology., Hibatulloh, M. F., Prasongko, B. K., & Harjanto, A. (2022).

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kalimantan Selatan: Jejak Purba di Balik Kekayaan Batubara

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!