Kain Sasirangan berwarna kuning dengan motif yang beragam (Dok. Ilustrasi AI)
Kalimantan Selatan (Kalsel) tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga menyimpan warisan budaya yang langka dan bernilai tinggi. Di balik gemerlap tambang dan hutan tropis, terdapat tiga "harta karun" yang menjadi kebanggaan masyarakat lokal: Kain Sasirangan, Intan Martapura, dan Dodol Kandangan. Ketiganya mudah ditemui di Kalsel, namun justru dianggap eksklusif dan "wah" di luar daerah. Apa yang membuat mereka begitu istimewa?
Sasirangan bukan sekadar kain; ia adalah simbol status dan spiritualitas suku Banjar. Kain ini dibuat dengan teknik resist dye tradisional, di mana bagian tertentu diikat atau ditutup sebelum dicelup, menghasilkan motif-motif simbolis seperti iris pudak atau bayam raja. Proses pembuatannya memakan waktu hingga 30 hari, tergantung kompleksitas motif dan bahan pewarna alami yang digunakan.
Keunikan Sasirangan terletak pada makna filosofisnya. Setiap motif memiliki cerita tersendiri, misalnya motif kambang kacang untuk pengobatan atau motif naga balimbur untuk kekuatan.
Baca juga: Cerita di Balik Kain Sasirangan Khas Banjar
Di Kalsel, kain ini mudah ditemui di pusat kerajinan seperti Kampung Sasirangan Banjarmasin, tetapi di luar daerah, Sasirangan menjadi barang koleksi yang dihargai tinggi karena keautentikannya. Bahkan, desainer modern mulai mengadaptasinya menjadi busana couture yang diminati pasar internasional .
Martapura dikenal sebagai pusat permata terbesar di Indonesia. Sejak era Kesultanan Banjar, kota ini telah menjadi hub perdagangan dan penggosokan intan. Yang membedakan intan Martapura adalah teknik pemotongan tradisional yang menghasilkan kemilau khas, serta keberagaman batu seperti kecubung, zirkon, dan intan kecil hingga besar .
Baca juga: Amparan Tatak, Wadai Bahari nang Jadi Kabanggaan Urang-Urang Banjar!
Kelangkaannya di luar Kalsel disebabkan olehrantai distribusi yang terbatas. Batu-batu ini umumnya diperjualbelikan di Pasar Batu Martapura atau toko-toko khusus, dan jarang sampai ke pasar internasional tanpa perantara.
Nilai "wah"-nya tidak hanya terletak pada keindahan fisik, tetapi juga pada nilai historis dan spiritual. Intan Martapura sering dijadikan mahar pernikahan atau investasi, dengan harga mencapai ratusan juta rupiah untuk kualitas terbaik.
Dodol Kandangan adalah kudapan legendaris dari Hulu Sungai Selatan (HSS). Terbuat dari ketan, gula aren, dan santan, dodol ini diaduk secara manual selama 8-10 jam hingga mencapai tekstur kenyal dan rasa yang khas. Proses tradisional ini membuatnya tahan lama tanpa pengawet kimia, sehingga ideal sebagai oleh-oleh.
Meski mudah ditemui di Kandangan, dodol ini sulit direplikasi di luar daerah karena ketergantungan pada bahan lokal seperti gula aren khas Kalimantan. Akibatnya, ia menjadi barang "mewah" yang diburu wisatawan sebagai cenderamati autentik. Dampak ekonominya signifikan: UMKM setempat seperti Metha Craft memberdayakan perempuan lokal untuk memproduksi dan memasarkannya hingga ke luar negeri .
Baca juga: Wisata Religi di Martapura, Ziarah Spiritual ke Makam Ulama & Masjid Bersejarah
Ketiga barang ini tidak hanya mempertahankan budaya, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal. Sasirangan dan Dodol Kandangan mendorong pariwisata dan UMKM, sementara Intan Martapura menyerap tenaga kerja di sektor perdagangan dan kerajinan. Namun, tantangan seperti regenerasi perajin dan distribusi masih perlu diatasi agar nilai eksklusifnya tetap terjaga tanpa mengorbankan keautentikan.
Dari kain yang bercerita hingga batu yang berkilau, dan kudapan yang menggetarkan lidah, ketiga warisan Kalsel ini adalah bukti bahwa kelangkaan melahirkan nilai. Mereka tidak hanya layak diburu sebagai koleksi, tetapi juga patut dilestarikan sebagai bagian dari identitas Nusantara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara News, Balikpapan TV, BPS Provinsi Kalimantan Selatan