Kue Lapis Hula Hula khas kue tradisional Banjar (Pinterest/rizky kartika)
KALSEL - Perkembangan kuliner modern, masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan tetap mempertahankan keunikan kue tradisionalnya, salah satunya Wadai Lapis. Kue ini tidak hanya lezat tetapi juga mengandung filosofi mendalam, menjadi bagian dari warisan budaya "Wadai 41" yang telah ada sejak era Kerajaan Hindu Negara Dipa.
Ciri Khas Wadai Lapis Banjar
Wadai Lapis Banjar, atau sering disebut Wadai Lapis Hula-hula, mudah dikenali dari teksturnya yang kenyal dan lapisan warnanya yang kontras—biasanya putih dan coklat keabu-abuan. Dinamakan "Hula-hula" karena teksturnya yang "kinyul" (kenyal) saat digigit, memberikan sensasi unik di mulut.
Kue ini dimasak secara dikukus lapis demi lapis, membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Setiap lapisan harus matang sempurna sebelum adonan berikutnya dituangkan. Proses ini menjadikan Wadai Lapis tidak sekadar hidangan, tetapi juga simbol kesabaran dan ketekunan.
Baca juga: Mengenal Wajik, Kue Tradisional Banjar yang Jadi Favorit Oleh-Oleh
Bahan dan Proses Pembuatan
Bahan utama Wadai Lapis relatif sederhana:
Proses pembuatannya meliputi:
Wadai Lapis termasuk dalam Wadai 41, tradisi penyajian 41 jenis kue dalam acara adat Banjar. Awalnya, kue-kue ini digunakan sebagai sesajen, tetapi seiring Islamisasi, fungsinya bergeser menjadi simbol syukur dan kebersamaan.
Baca juga: Kelalapon, Kue Tradisional Banjar yang Kaya Rasa dan Makna
Warna-warni pada Wadai Lapis juga memiliki makna:
Selain itu, Wadai Lapis sering disajikan di warung kopi pagi hari, menjadi media silaturahmi masyarakat Banjar.
Meskipun kini banyak kue modern bermunculan, Wadai Lapis tetap lestari berkat peran ibu-ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil. Beberapa inovasi seperti penggunaan pewarna alami atau pengemasan menarik turut membantu memperkenalkannya ke generasi muda. Mari lestarikan kue tradisional!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kalimantan Selatan, Wawancara, Setyawan, A. (2019). Warisan Wadai 41: Sejarah Dan Maknanya. Penerbit Banua.