Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 26 JULI 2025 • 15:00 WIB

Wadai Lapis Banjar, Kelezatan Kenyal Warisan Budaya

Wadai Lapis Banjar, Kelezatan Kenyal Warisan BudayaKue Lapis Hula Hula khas kue tradisional Banjar (Pinterest/rizky kartika) 

KALSEL - Perkembangan kuliner modern, masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan tetap mempertahankan keunikan kue tradisionalnya, salah satunya Wadai Lapis. Kue ini tidak hanya lezat tetapi juga mengandung filosofi mendalam, menjadi bagian dari warisan budaya "Wadai 41" yang telah ada sejak era Kerajaan Hindu Negara Dipa.  

Ciri Khas Wadai Lapis Banjar

Wadai Lapis Banjar, atau sering disebut Wadai Lapis Hula-hula, mudah dikenali dari teksturnya yang kenyal dan lapisan warnanya yang kontras—biasanya putih dan coklat keabu-abuan. Dinamakan "Hula-hula" karena teksturnya yang "kinyul" (kenyal) saat digigit, memberikan sensasi unik di mulut.  

Kue ini dimasak secara dikukus lapis demi lapis, membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Setiap lapisan harus matang sempurna sebelum adonan berikutnya dituangkan. Proses ini menjadikan Wadai Lapis tidak sekadar hidangan, tetapi juga simbol kesabaran dan ketekunan.  

Baca juga: Mengenal Wajik, Kue Tradisional Banjar yang Jadi Favorit Oleh-Oleh

Bahan dan Proses Pembuatan  

Bahan utama Wadai Lapis relatif sederhana:  

  • Tepung beras dan kanji sebagai dasar adonan.  
  • Santan untuk rasa gurih.  
  • Gula, garam, telur, dan susu kental manis (pada varian Hula-hula).  
  • Pewarna alami seperti pandan (hijau) atau sirup mawar (merah muda).  

Proses pembuatannya meliputi:  

  1. Mencampur bahan kering dengan santan.  
  2. Membagi adonan dan memberi warna berbeda.  
  3. Mengukus setiap lapisan hingga matang sebelum menambahkan lapisan berikutnya.  
  4. Mendinginkan kue sebelum dipotong.  

Wadai Lapis termasuk dalam Wadai 41, tradisi penyajian 41 jenis kue dalam acara adat Banjar. Awalnya, kue-kue ini digunakan sebagai sesajen, tetapi seiring Islamisasi, fungsinya bergeser menjadi simbol syukur dan kebersamaan.  

Baca juga: Kelalapon, Kue Tradisional Banjar yang Kaya Rasa dan Makna

Warna-warni pada Wadai Lapis juga memiliki makna:  

  • Putih yang memiliki makna Kebaikan dan kesucian.  
  • Coklat bermakna Ketenangan dan keseimbangan.  
  • Hijau atau merah yang mengartikan (pada varian lain): Kemakmuran dan keberanian.  

Selain itu, Wadai Lapis sering disajikan di warung kopi pagi hari, menjadi media silaturahmi masyarakat Banjar.  

Meskipun kini banyak kue modern bermunculan, Wadai Lapis tetap lestari berkat peran ibu-ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil. Beberapa inovasi seperti penggunaan pewarna alami atau pengemasan menarik turut membantu memperkenalkannya ke generasi muda. Mari lestarikan kue tradisional!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kalimantan Selatan, Wawancara, Setyawan, A. (2019). Warisan Wadai 41: Sejarah Dan Maknanya. Penerbit Banua.

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Wadai Lapis Banjar, Kelezatan Kenyal Warisan Budaya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!