Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 15 SEPTEMBER 2025 • 08:00 WIB

Waja Sampai Kaputing: Filosofi Keteguhan Hati dari Kalimantan Selatan yang Menginspirasi Generasi

Waja Sampai Kaputing: Filosofi Keteguhan Hati dari Kalimantan Selatan yang Menginspirasi GenerasiPahlawan asal Kalsel, Pangeran Antasari (Pinterest/Marnos Comics)

Asal-usul Historis: Semangat Perjuangan Melawan Penjajahan

"Haram manyarah waja sampai kaputing" – sebuah seruan yang menggema dari abad ke-19, menjadi semboyan perlawanan Pangeran Antasari dan rakyat Banjar selama Perang Banjar melawan kolonial Belanda. Frasa ini secara harfiah berarti "haram menyerah, baja sampai ke ujung", mencerminkan tekad dan komitmen untuk berjuang hingga titik darah penghabisan.

Pangeran Antasari, pahlawan nasional dari Kalimantan Selatan, mengucapkan sumpah ini sebagai ikrar untuk tidak pernah menyerah kepada penjajah, memperjuangkan kedaulatan tanah Banjar hingga akhir hayatnya.

Secara bahasa, "waja" berarti baja yang melambangkan kekuatan dan keteguhan, sementara "sampai kaputing" berarti hingga ke ujung atau hingga tetes terakhir. Gabungan kata ini tidak hanya sekadar metafora, tetapi juga menjadi simbol identitas kolektif masyarakat Banjar.

Falsafah ini kemudian diabadikan dalam berbagai bentuk, termasuk Museum Waja Sampai Kaputing (Museum Wasaka) di Banjarmasin, yang menyimpan koleksi sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan .

Baca juga: Maulid Banjar: Simbol Kemanisan yang Menyatu dalam Budaya dan Kehidupan

Filosofi yang Tetap Relevan dari Masa ke Masa

"Waja Sampai Kaputing" bukan hanya sekadar semboyan historis, tetapi juga filosofi hidup yang terus menginspirasi generasi muda. Dalam konteks kekinian, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sejalan dengan konsep Psychological Capital (PsyCap) dalam psikologi positif, yang menekankan pada optimisme, resilien, harapan, dan efikasi diri.

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa falsafah ini dapat menjadi benteng bagi generasi muda (strawberry generation) yang sering dianggap rentan dan mudah menyerah .

Institusionalisasi dan Pelestarian Budaya

Pemerintah Kalimantan Selatan secara resmi mengadopsi "Waja Sampai Kaputing" sebagai motto daerah, yang tercermin dalam lambang dan kebijakan pembangunan. Museum Wasaka, yang didirikan pada 1989, tidak hanya menjadi penyimpan artefak bersejarah, tetapi juga pusat edukasi yang mengajarkan nilai-nilai keteguhan dan pantang menyerah kepada generasi muda .

Selain itu, falsafah ini juga diinterpretasikan dalam bentuk seni dan musik, seperti lagu yang dipopulerkan oleh JEF Banjar dan album Celtic-Punk oleh Primitive Monkey Noose .

Baca juga: Pangeran Antasari Dengan Kisah Kepahlawanan dan Perlawanan Gigih dari Tanah Banjar

Dalam dunia pendidikan, "Waja Sampai Kaputing" diintegrasikan ke dalam kurikulum karakter untuk menanamkan nilai ketekunan dan tanggung jawab. Di komunitas diaspora Banjar, falsafah ini menjadi pengikat identitas budaya dan pengingat untuk tidak melupakan akar sejarah mereka. Nilai-nilai ini juga diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan modern, seperti etos kerja, kewirausahaan, dan pengembangan diri .

Pergeseran Makna dan Kritik

Seiring waktu, "Waja Sampai Kaputing" mengalami pergeseran makna dari semangat perlawanan fisik menjadi keteguhan moral dan mental. Namun, beberapa pihak mengkritik potensi misinterpretasi yang melihatnya sebagai pembenaran untuk perilaku ekstrem. Para ahli menekankan pentingnya penafsiran kontekstual yang sesuai dengan nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan universal .

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia, KalimantanPost, Jurnal Ilmiah

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Waja Sampai Kaputing: Filosofi Keteguhan Hati dari Kalimantan Selatan yang Menginspirasi Generasi

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!