Dua orang perempuan sedang melakukan podcast (Pinteres/Jeremy Honea)
Generasi muda Banjar saat ini hidup dalam dua dunia: memegang teguh warisan budaya lokal sambil beradaptasi dengan tren modern. Mereka tidak hanya menjadi penjaga tradisi tetapi juga pelaku ekonomi kreatif yang cerdas. Artikel ini mengupas tiga aspek utama gaya hidup mereka—keterikatan pada budaya, gaya hidup hemat, dan aktivitas digital—yang membentuk identitas unik anak muda Banjar di tengah arus globalisasi.
1. Melestarikan Budaya Banjar dengan Cara Kekinian
Anak muda Banjar tidak lagi melihat pelestarian budaya sebagai kewajiban kaku, melainkan sebagai bagian dari gaya hidup yang menyenangkan. Komunitas pelajar dan mahasiswa aktif menggelar workshop madihin (puisi tradisional Banjar), tari tapung, hingga kelas memasak kue tradisional seperti wajid dan bannang-bannang. Mereka juga menginisiasi "ngaji basa Banjar"—sesi santai untuk memperkaya kosakata dan ungkapan khas—sehingga bahasa daerah tetap hidup di kalangan generasi muda.
Tak hanya itu, pagelaran musik panting dan pertunjukan seni lainnya kerap diadakan untuk memperkenalkan kembali budaya Banjar kepada generasi muda yang mungkin lebih terbiasa dengan musik modern. Filosofi di balik tradisi ini juga diajarkan, agar mereka tidak sekadar meniru, tetapi memahami maknanya .
2. Gerakan #AntiBokekClub: Hemat Tanpa Hilang Gengsi
Di tengah godaan gaya hidup konsumtif, anak muda Banjar justru menggalakkan gerakan hemat ala #AntiBokekClub. Mereka memanfaatkan promo e-wallet, belanja grosir online, dan bahkan membuat aksesori sendiri demi tampil stylish tanpa menguras dompet . Aplikasi cashback dan grup WhatsApp berbagi kode voucher menjadi senjata andalan mereka.
Prinsip "hemat bukan berarti pelit" benar-benar diimplementasikan dalam keseharian. Misalnya, mereka lebih memilih masak sendiri daripada jajan di luar, atau memanfaatkan diskon besar-besaran saat berbelanja kebutuhan bulanan. Pola hidup seperti ini tidak hanya menghemat uang, tetapi juga melatih kedisiplinan finansial sejak dini .
3. Kreativitas Digital: Dari Konten Budaya hingga Bisnis Online
Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi wadah ekspresi anak muda Banjar. Mereka tidak sekadar membuat konten hiburan, tetapi juga mengedukasi tentang budaya lokal. Mulai dari tutorial memasak makanan khas Banjar, tarian tradisional, hingga seri "Berburu Wisata Kuliner Banjar" yang ditayangkan secara live.
Banyak kreator konten lokal yang sukses menggaet ribuan followers sekaligus mempromosikan UMKM setempat. Hal ini menunjukkan bahwa anak muda Banjar tidak hanya konsumtif, tetapi juga produktif—mengubah hobi menjadi peluang penghasilan tambahan.
Baca juga: Aksesoris Orang Banjar yang Siap Mencuri Perhatian di Fashion Show
4. Antara Ambisi Karir dan Semangat Kewirausahaan
Mayoritas anak muda Banjar masih mengutamakan pendidikan formal untuk meraih pekerjaan stabil. Jurusan seperti ekonomi dan teknologi informasi menjadi pilihan favorit karena dianggap lebih menjamin masa depan . Namun, belakangan muncul juga gelombang wirausaha muda dengan startup lokal, menandakan pergeseran pola pikir dari sekadar mencari kerja menjadi menciptakan lapangan pekerjaan.
Anak muda Banjar berhasil menciptakan keseimbangan unik antara melestarikan budaya, hidup hemat, dan memanfaatkan teknologi. Mereka membuktikan bahwa identitas lokal tidak harus kalah oleh modernitas—justru bisa saling memperkaya. Dengan semangat seperti ini, masa depan Banjar tidak hanya terjaga, tetapi juga terus berkembang dengan kreativitas generasi mudanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Infopublik Banjarkab, Banyuwangi.viva.co.id, Lemon8