Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 30 JULI 2025 • 17:25 WIB

Seniman Lukis Banjar: Pelestari Budaya Melalui Goresan Kuas

Seniman Lukis Banjar: Pelestari Budaya Melalui Goresan KuasSeseorang sedang melukis di depan kanvas putih (Pinterest/レタスクラブ)

Di tengah pesatnya modernisasi, seniman lukis Banjar hadir sebagai penjaga warisan budaya melalui karya-karya visual yang sarat makna. Mereka tidak sekadar melukis, tetapi juga mengabadikan kearifan lokal, tradisi, dan identitas masyarakat Banjar yang mulai tergerus zaman. Berikut tiga sosok seniman yang konsisten mengangkat tema Banjar dalam karya mereka:  

1. Aswin Noor: Mural sebagai Media Edukasi Budaya

Aswin Noor, atau akrab disapa Pak Aswin, adalah pelukis mural yang menjadikan dinding-dinding kota sebagai kanvas untuk bercerita tentang budaya Banjar. Karyanya menghiasi tembok Perpustakaan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, memvisualisasikan kehidupan sehari-hari masyarakat Banjar—mulai dari aktivitas di sungai, tradisi menyadap karet, hingga permainan anak-anak yang nyaris punah .  

Baca juga: Pasar Legendaris Kalimantan Selatan, Menyusuri Jejak Budaya dan Perniagaan di Atas Air

“Saya ingin generasi muda tahu bahwa kita punya budaya yang kaya, tapi perlahan terlupakan,” ujarnya. Dalam setiap karyanya, Pak Aswin menggunakan warna-warna natural dan detail realistis, seperti ikan toman, buaya, atau jukung (perahu tradisional), yang membutuhkan waktu 1–3 hari pengerjaan tergantung kompleksitas .  

2. Nanang M. Yus: Lukisan yang Menyimpan Filosofi Hidup

Nanang M. Yus, pelukis senior kelahiran Barabai (1945), telah berkarya lebih dari 56 tahun. Pameran tunggalnya bertajuk Titik Nadir (2022) menampilkan 26 lukisan yang merekam budaya Banjar, seperti pasar terapung dan pendulangan intan. Salah satu karyanya, Yang Muncul dari Batu, menggambarkan keteguhan hidup lewat wajah seorang tua yang muncul dari bebatuan—simbol perjuangan dalam kerasnya kehidupan .  

Nanang kerap menyisipkan simbol-simbol spiritual Banjar, seperti lingkaran surya yang terinspirasi dari kosmologi Sufi. Meski karyanya diminati kolektor internasional (termasuk dari California), ia prihatin karena minimnya apresiasi lokal. “Orang Banjar jarang mengoleksi lukisan. Padahal, karya seni adalah warisan tak ternilai,” katanya .  

3. Misbach Tamrin: Realisme dan Narasi Sejarah Banjar

Misbach Tamrin, maestro lukis yang pernah terlibat dalam Lekra, dikenal dengan gaya realisnya yang kuat. Karyanya banyak mengangkat dinamika masyarakat Banjar di bantaran sungai, seperti aktivitas perdagangan, pembuatan perahu, dan ritual adat. Dalam pameran City of Thousand Rivers (2017), ia menghidupkan kembali cerita-cerita lokal mulai dari era kerajaan hingga modern .  

Baca juga: Aksesoris Orang Banjar yang Siap Mencuri Perhatian di Fashion Show

Palet warna tanah dan biru sungai mendominasi karyanya, menciptakan kesan autentik tentang kehidupan Banjar yang lekat dengan alam. “Melukis bagi saya adalah cara merawat ingatan kolektif,” ujarnya dalam sebuah wawancara.  

Ketiga seniman ini—Aswin Noor, Nanang M. Yus, dan Misbach Tamrin—tidak hanya menciptakan karya estetis, tetapi juga menjadi penjaga memori budaya Banjar. Dari mural jalanan hingga kanvas di galeri, setiap goresan kuas mereka adalah upaya untuk mengingatkan kita: budaya Banjar terlalu berharga untuk dilupakan.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berita Banjarmasin, AsyikAsyik.com, Kalimantanpost.com

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Seniman Lukis Banjar: Pelestari Budaya Melalui Goresan Kuas

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!