seseorang yang sedang lelah (Pinteresr/Freepik)
Masyarakat Banjar dikenal dengan tutur kata yang santun, bahkan saat sedang kesal. Budaya egaliter dan nilai-nilai agama yang kuat membentuk cara mereka mengekspresikan kemarahan tanpa melukai harga diri lawan bicara. Berikut beberapa tipe orang Banjar yang tetap sopan meski emosi sedang memuncak.
1. Pemendam: Diam yang Berbicara
Tipe ini lebih memilih diam atau menunjukkan ketidaksukaan lewat ekspresi wajah—seperti mengernyitkan dahi atau menarik napas panjang—ketimbang melontarkan kata-kata kasar. Bagi mereka, menjaga hubungan baik lebih penting daripada meluapkan amarah. Prinsipnya sederhana: "Biarkan api sedikit meredup sendiri" sebelum akhirnya membicarakan masalah dengan kepala dingin.
Baca juga: Bahasa Banjar yang Terbagi Dua Dialek Dengan Kaunikannya, Mari Kenali Lebih Dalam!
2. Sindir Halus: Marah Pakai Kiasan
Bahasa Banjar kaya akan eufemisme dan metafora, sehingga umpatan pun terdengar halus. Misalnya, alih-alih mengatakan "kada bapikiran" (tidak berpikir), mereka mungkin menyindir dengan "kada balampu" (kurang akal) dalam nada datar. Penggunaan singkatan atau kata pengganti—seperti "batirak" untuk menyindir kebiasaan makan orang lain—juga jadi ciri khas tipe ini.
3. Dialogis: Marah dengan Argumentasi Terstruktur
Orang Banjar yang terbiasa menyelesaikan konflik lewat diskusi biasanya mengawali pembicaraan dengan kalimat pelembut. Contohnya: "Teteh, handak ulun sampaikan..." sebelum menyampaikan pendapat. Mereka juga memanfaatkan partikel sopan seperti "kah" dan kata ganti "pian" (Anda) untuk menjaga kesantunan, meski topik yang dibahas sebenarnya sedang memanas.
4. Religius: Mengalihkan Emosi ke Spiritual
Penguatan nilai agama membuat sebagian orang Banjar lebih memilih mengendalikan amarah lewat dzikir atau mengucap "bismillah" sebelum berbicara. Ungkapan seperti "Ya Allah, sabarkan ulun..." sering terdengar sebagai upaya menenangkan diri, sehingga kemarahan tidak berujung pada kata-kata kasar.
Baca juga: Dialog Absurd yang Menghangatkan Hati di Warung Kopi Banjar Dengan Ruang Sosial Penuh Kelakar
Akar Kesopanan dalam Budaya dan Agama
Kesantunan orang Banjar saat marah tidak lepas dari dua hal: budaya egaliter yang menekankan kesetaraan dan pengaruh Islam yang kuat. Bahasa Banjar sendiri memiliki register sopan, seperti "pian" (Anda) dan "ulan/ulun" (saya), yang tetap dipakai bahkan dalam situasi tegang.
Dari diam yang bermakna hingga sindiran halus, orang Banjar membuktikan bahwa marah tak harus identik dengan kata-kata kasar. Justru di situlah keunikan mereka: emosi dikelola dengan bijak, tanpa meninggalkan kesopanan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Bubuhanbanjar.wordpress.com, Yayuk Rissari, Klasifikasi Tabu Pada Masyarakat Banjar (Kandai, 2019), Wikipedia