Kue tradisional Patah yang menggugah selera (Dok. Artiwi Pujalita)
KALSEL - Di antara kekayaan kuliner Nusantara, Kue Patah bukan sekadar jajanan, melainkan warisan kuliner Banjar yang penuh makna. Teksturnya yang lembut berpadu dengan siraman tahi lala nan gurih, menghadirkan sensasi rasa yang memikat sekaligus menyimpan cerita budaya turun-temurun.
Sejarah dan Makna di Balik Kue Patah
Kue Patah termasuk dalam wadai ampat puluh satu (41 kue tradisional Banjar) yang kerap disajikan sebelum pertunjukan seni seperti wayang atau teater topeng. Masyarakat Banjar percaya, kue-kue ini memiliki kekuatan magis untuk mengusir roh jahat yang muncul di malam hari. Penyajiannya pun tidak sembarangan—setiap kue melambangkan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Baca juga: Rahasia Kenikmatan Amparan Tatak: Kudapan Manis Khas Banjar
Hingga kini, Kue Patah tetap hadir dalam momen spesial seperti Lebaran, Ramadan, atau acara adat. Keberadaannya menjadi simbol pelestarian warisan kuliner yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Ciri Khas dan Rasa yang Memikat
Sekilas, Kue Patah mirip kue talam karena teksturnya yang kenyal. Namun, keunikannya terletak pada paduan rasa gurih dan kuah santan kental bernama *tahi lala*. Warna hijaunya yang cerah berasal dari sari daun suji atau pandan, sementara tahi lala—santan yang dimasak hingga berminyak—memberikan sentuhan gurih dengan taburan bawang goreng dan merica.
Perpaduan ini menciptakan rasa asin, gurih, dan aromatik. Tidak heran jika kue ini sering menjadi buruan para pecinta kuliner tradisional.
Bahan Sederhana dan Prosesnya
Baca juga: Kuliner Unik Ini Hanya Ada di Kalimantan Selatan!
Kue ini lebih mudah dijumpai di pasar tradisional Kalimantan Selatan, terutama saat Ramadan atau hari besar. Sedangkan di luar wilayah tersebut, Kue Patah tergolong sulit ditemukan.
Di tengah gempuran kue modern, Kue Patah tetap bertahan sebagai bukti kekayaan kuliner Banjar. Upaya pelestariannya tidak hanya menjaga rasa, tetapi juga mempertahankan cerita dan tradisi di balik setiap hidangan. Bagi masyarakat Banjar, Kue Patah bukan sekadar makanan—ia adalah identitas yang patut dibanggakan.
Sudah pernah mencobanya?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kalimantan Selatan, Sastrawan, M. (2018). Makanan Adat Banjar: Filosofi Dan Resep. Penerbit Banua., Wawancara Dengan Pengrajin Kue Tradisional Di Pasar Wadai Banjarmasin (Juni 2023).