Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 28 JULI 2025 • 09:00 WIB

Cingkarok Batu, Kue Keras ala Banjar yang Lahir dari Nasi Sisa, Renyah dan Sarat Makna!

Cingkarok Batu, Kue Keras ala Banjar yang Lahir dari Nasi Sisa, Renyah dan Sarat Makna!Kue tradisional banjar, Wajik (Dok. Ilustrasi AI)

Di tengah pesatnya perkembangan kuliner modern, kue tradisional seperti Cingkarok Batu dari suku Banjar, Kalimantan Selatan, tetap menjadi bukti kekayaan budaya Indonesia. Kue ini tidak hanya lezat tetapi juga sarat dengan nilai kearifan lokal. Dibuat dari bahan sederhana seperti nasi sisa, Cingkarok Batu menawarkan cita rasa unik dan tekstur yang khas, menjadikannya salah satu warisan kuliner yang patut dilestarikan.  

Asal Usul dan Makna Nama

Nama Cingkarok Batu berasal dari bahasa Banjar. Kata "cingkarok" merujuk pada nasi sisa yang sudah mengering, sedangkan "batu" menggambarkan tekstur kue yang keras seperti batu. Kue ini merupakan contoh nyata bagaimana masyarakat Banjar memanfaatkan bahan makanan seoptimal mungkin, mengurangi pemborosan, dan mengolahnya menjadi camilan bernilai tinggi.  

Baca juga: Mengenal Wajik, Kue Tradisional Banjar yang Jadi Favorit Oleh-Oleh

Bahan dan Cara Pembuatan yang Unik

  1. Proses pembuatan Cingkarok Batu terbilang sederhana tetapi memerlukan ketelatenan. Berikut tahapannya:  
  2. Pengeringan Nasi Sisa. Nasi sisa dijemur hingga benar-benar kering dan keras.  
  3. Penyangraia. Nasi kering digoreng tanpa minyak atau disangrai hingga renyah dan berwarna kuning kecokelatan.  
  4. Pembuatan Karamel. Gula merah, santan, dan sedikit garam dimasak hingga membentuk karamel kental.  
  5. Pencampuran dan Pencetakan Butiran nasi sangrai dicampur dengan karamel, lalu dicetak menggunakan anyaman daun pisang atau nampan. Setelah dingin, kue mengeras dan siap disajikan.  

Teksturnya yang renyah dan keras membuat Cingkarok Batu sering dinikmati dengan cara digigit perlahan atau direndam dalam teh hangat agar sedikit melunak.  

Cingkarok Batu memiliki perpaduan rasa manis legit dari gula merah dan gurihnya santan. Meskipun keras, kue ini justru memberikan sensasi renyah yang memuaskan. Dahulu, kue ini sering dibuat sebagai camilan sehari-hari, tetapi kini juga kerap dijumpai di pasar tradisional Kalimantan Selatan, terutama saat perayaan adat.  

Fakta Menarik tentang Cingkarok Batu  

Baca juga: Kue Kararaban Dengan Keunikan dan Filosofi Kue Tradisional Banjar yang Mulai Langka

  • Ramah Lingkungan. Kue ini memanfaatkan nasi sisa, menunjukkan prinsip zero waste ala masyarakat Banjar.  
  • Tahan Lama. Berkat bahan dasarnya yang kering, Cingkarok Batu bisa disimpan dalam waktu lama tanpa mudah basi.  
  • Beda dengan Bintangor. Meski sama-sama berbahan nasi sisa, Bintangor (kue Banjar lain) menggunakan nasi yang dihaluskan, sedangkan Cingkarok Batu mempertahankan tekstur nasi utuh.  

Cingkarok Batu bukan sekadar kue, melainkan simbol kreativitas dan kearifan lokal suku Banjar. Di era modern seperti sekarang, kue tradisional semacam ini perlu terus diperkenalkan agar tidak tergerus zaman. Dengan rasanya yang khas dan cerita di baliknya, Cingkarok Batu layak menjadi salah satu hidangan kebanggaan Indonesia.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kalimantan Selatan, Buku Kuliner Tradisional Banjar (2018), Wawancara Dengan Pelaku Usaha Kue Tradisional Banjar (2023)

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Cingkarok Batu, Kue Keras ala Banjar yang Lahir dari Nasi Sisa, Renyah dan Sarat Makna!

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!