SITI HAWA LARI: Transformasi Ekonomi Berbasis Itik di Kalimantan Selatan (mckalsel)
SITI HAWA LARI: Transformasi Ekonomi Berbasis Itik di Kalimantan Selatan
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) tengah melakukan terobosan besar dalam sektor peternakan melalui program inovatif bernama SITI HAWA LARI. Singkatan dari Sistem Integrasi Ternak Itik di Lahan Rawa dan Lahan Kering ini bukan sekadar nama unik, melainkan sebuah strategi komprehensif untuk memperkuat ekonomi kerakyatan berbasis potensi lokal.
Melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalsel, program ini dirancang untuk membangun ekosistem agribisnis itik yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Fokus utamanya adalah memaksimalkan lahan rawa dan lahan kering yang melimpah di Bumi Antasari untuk meningkatkan kesejahteraan peternak lokal.
Melestarikan Itik Alabio sebagai Plasma Nutfah
Salah satu pilar utama dalam program SITI HAWA LARI adalah pelestarian dan pengembangan Itik Alabio. Sebagai plasma nutfah atau kekayaan genetik asli Kalimantan Selatan, Itik Alabio memiliki keunggulan kompetitif dalam produksi telur dan daging.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalsel, Suparmi, menekankan bahwa pengembangan itik ini merupakan langkah nyata dalam menjaga identitas daerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan pendekatan yang berkelanjutan, populasi itik ini terus dipacu agar tidak hanya menjadi ikon daerah, tetapi juga menjadi mesin penggerak ekonomi yang tangguh.
Model Bisnis Closed Loop dan Pemanfaatan Pakan Lokal
Keunggulan dari SITI HAWA LARI terletak pada model bisnis closed loop. Sistem ini mengintegrasikan seluruh proses produksi dalam satu lingkaran tertutup yang efisien. Peternak didorong untuk memanfaatkan sumber daya pakan lokal yang tersedia di lahan rawa maupun lahan kering, sehingga ketergantungan pada pakan pabrikan yang mahal dapat dikurangi.
Kemitraan terpadu antar kelompok peternak secara swadaya menjadi kunci keberhasilan di lapangan. Hal ini menciptakan kemandirian ekonomi di tingkat desa dan membuka peluang kerja baru bagi masyarakat, termasuk menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor agribisnis yang modern.
Capaian Luar Biasa: Jutaan Ekor dan Ratusan Klaster
Hingga April 2026, implementasi program ini telah membuahkan hasil yang sangat signifikan. Saat ini, telah terbentuk sebanyak 803 klaster budidaya itik yang tersebar di berbagai wilayah Kalsel. Total populasi itik yang dikelola dalam program ini telah menembus angka 3,1 juta ekor.
Angka tersebut berkontribusi langsung pada ketersediaan pangan daerah dengan produksi mencapai 2.098 ton daging itik dan lebih dari 25 ribu ton telur. Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan langsung para peternak, tetapi juga berperan penting dalam menjaga stabilitas harga pangan dan membantu pemerintah dalam pengendalian inflasi daerah.
Visi Masa Depan: Menuju 1.000 Klaster
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan tidak berhenti sampai di sini. Target ke depan adalah memperluas jangkauan hingga 1.000 klaster budidaya. Untuk mencapai target tersebut, Pemprov Kalsel menggandeng sektor swasta melalui skema kemitraan dan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (CSR), melibatkan sektor perkebunan, kehutanan, hingga pertambangan.
Dengan semangat "Bekerja Bersama Merangkul Semua", SITI HAWA LARI diharapkan menjadi model nasional bagi pengembangan agribisnis yang inklusif dan berkelanjutan. Inovasi ini semakin memperkukuh posisi Kalimantan Selatan sebagai pusat pengembangan komoditas unggulan berbasis kearifan lokal di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Diskominfo Kalsel