Dayak dan Banjar sering disebut sebagai dua suku utama di Kalimantan. Namun, di balik perbedaan identitas mereka, tersimpan hubungan kekerabatan yang erat dan sejarah pembentukan yang saling terkait. Hubungan ini bukan sekadar tetangga, melainkan seperti saudara kandung yang dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, sehingga membentuk karakter yang unik.
Asal-Usul yang Berbeda: Dari Akar yang Sama
Secara genealogis, masyarakat etnis Banjar pada zaman dahulu merupakan satu kesatuan entitas yang sama dengan masyarakat Dayak lainnya, khususnya yang mendiami sekitar wilayah Pegunungan Meratus. Legenda dari mitologi suku Dayak Meratus bahkan dengan jelas menggambarkan ikatan darah ini.
Diceritakan bahwa nenek moyang kedua suku adalah dua kakak beradik: Sandayuhan (si kakak yang kuat dan jago berkelahi) yang menurunkan suku Dayak Bukit, dan Bambang Basiwara (si adik yang lemah fisik tetapi cerdas) yang menurunkan suku Banjar .
Baca juga: Borneo Terbelah: Jejak Kolonial yang Membentuk Wajah Kalimantan Modern
Pemisahan identitas mulai mengemuka pada abad ke-16 dengan berdirinya Kesultanan Banjar yang beragama Islam. Saat agama Islam ditetapkan sebagai ideologi negara, banyak penduduk asli yang memeluk Islam kemudian melebur identitas budayanya menjadi "Banjar".
Sementara, masyarakat yang mempertahankan kepercayaan tradisional (Kaharingan) atau memeluk Kristen umumnya tetap menyebut diri mereka sebagai "Dayak" . Dalam konteks ini, secara genetik etnis Banjar adalah orang Dayak yang memilih agama Islam sebagai anutannya .
Perbandingan Identitas Budaya Dayak dan Banjar
1. Sistem Religi dan Keyakinan
Perbedaan paling mencolok terletak pada agama mayoritas. Suku Banjar kini hampir sepenuhnya adalah pemeluk agama Islam yang taat, dan norma-norma kehidupan sehari-harinya sangat berbasis Islami . Sebaliknya, suku Dayak secara tradisional menganut kepercayaan Kaharingan atau animisme yang sangat menghormati alam. Meski banyak pula dari mereka yang kini telah memeluk Kristen atau Islam, nilai-nilai tradisional yang kuat terhadap lingkungan masih melekat .
Baca juga: Mengenal Orang Bukit, Suku Dayak Penjaga Hutan Meratus yang Harmonis dengan Alam
2. Bahasa dan Lingua Franca
Suku Dayak memiliki keragaman bahasa yang sangat tinggi, dengan ratusan bahasa dan dialek yang berbeda antar sub-suku . Bahasa Banjar, sebaliknya, lebih homogen. Bahasa Banjar, yang terbagi atas dialek Pahuluan dan Kuala, menjadi lingua franca atau bahasa pergaulan di banyak wilayah Kalimantan, bahkan digunakan pula oleh sebagian masyarakat Dayak dalam aktivitas perdagangan . Menariknya, bahasa Dayak Bukit (Meratus) dianggap sangat dekat dan dapat disebut sebagai bahasa Banjar purba yang arkais .
3. Pola Hidup dan Mata Pencaharian
Secara tradisional, suku Dayak dikenal sebagai masyarakat pedalaman yang hidup berharmoni dengan hutan dan aliran sungai di pedalaman. Mereka ahli dalam berburu, berkebun, dan memanfaatkan sumber daya hutan . Suku Banjar, sebagai "Dayak pesisir", mengembangkan keahlian dalam perdagangan dan pelayaran. Mereka terkenal sebagai pedagang ulung yang menghubungkan daerah pesisir dan pedalaman, dengan basis budaya yang kuat di sekitar daerah hilir sungai dan kota seperti Banjarmasin .
4. Interaksi dan Koeksistensi Masa Kini
Hubungan Dayak dan Banjar diwarnai dinamika persaudaraan dan negosiasi identitas. Istilah "badingsanak" dalam bahasa Banjar yang berarti "bersaudara" mencerminkan kedekatan ini . Meski berpotensi terjadi ketegangan, misalnya dalam soal perbatasan tanah, kedua suku besar ini telah mengembangkan ketahanan untuk hidup berdampingan secara damai, didukung oleh "pembagian" ragam mata pencaharian yang mencegah kesenjangan ekonomi mencolok .
Baca juga: Wisata Sejarah Perang Banjar yang Merekam Jejak Perlawanan Rakyat Melawan Kolonial Belanda
Dayak dan Banjar bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan bagi pulau Kalimantan. Dayak mewakili roh tradisional dan kearifan ekologis pedalaman, sementara Banjar merepresentasikan dinamika budaya pesisir yang terbentuk oleh perdagangan dan agama. Keduanya, meski dengan identitas yang kini berbeda, tetap terikat oleh sejarah panjang dan ikatan darah yang tak terbantahkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Koran Banjar, Crcs.ugm.ac.id