Senin, 29 SEPTEMBER 2025 • 07:30 WIB

Banjar Core: Menyatukan Warisan Sasirangan dengan Gaya Kekinian Anak Muda

Author

Seorang perempuan dengan pakaian batik panjang yang dipadukan dengan celana (Pinterest/wisha wisha)

KALSEL – Di jantung Kalimantan Selatan, sebuah gelombang gaya baru sedang bangkit. Bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah pernyataan identitas yang kental. Mereka menyebutnya “Banjar Core”—sebuah gerakan dimana anak muda Banjar dengan percaya diri menyulam warisan budaya leluhur, khususnya kain Sasirangan, ke dalam keseharian gaya urban dan streetwear mereka. Ini adalah cerita tentang bagaimana tradisi tidak lagi terkurung di lemari adat, tetapi hidup dan bernafas di jalanan.

Lebih dari Sekadar Kain: Sasirangan sebagai Jiwa

Inti dari gaya ini terletak pada Sasirangan, kain tenun ikonik yang proses pembuatannya menggunakan teknik tie-dye atau perintang warna. Bagi masyarakat Banjar, Sasirangan bukan sekadar kain mata; ia menyimpan napas sejarah dan nilai ritual yang dalam, sering kali digunakan dalam upacara pamintan atau penyembuhan. Kini, makna sakral itu dihormati dengan cara baru: dengan menjadikannya bagian dari kehidupan modern.

Anak-anak muda Banjar tidak serta-merta memakai Sasirangan dalam bentuknya yang paling tradisional. Mereka membongkar dan menyusun ulang. Motif-motif yang terinspirasi dari alam sekitar, seperti Gigi Haruan (gigi ikan gabus) atau Bunga Teratai, yang biasanya hadir dalam warna-warna cerah seperti kuning dan merah, kini ditemukan pada potongan-potongan yang lebih dinamis.

Baca juga: Menelusuri Jalur Air Kalsel: Dari Puncak Meratus Hingga Muara di Laut Jawa dan Selat Makassar

Resep Gaya: Tradisi yang Dikenakan dengan Cara Baru

"Banjar Core” adalah tentang kecerdikan dalam memadukan. Lihatlah bagaimana seorang pemuda mengganti jaket bomber biasa dengan bomber berbahan full-print Sasirangan, dipadukan dengan celana cargo dan sneakers. Atau, seorang perempuan yang mengenakan kimono outer dengan motif Sasirangan yang mencolok di atas kaos polos dan kulot, menciptakan siluet kasual namun penuh pernyataan.

Bagi yang menyukai sentuhan modest, tunik panjang Sasirangan dipadukan dengan hijab polos dan celana palazzo menawarkan kesan elegan yang tetap rooted pada budaya. Bahkan untuk acara semi-formal, selendang dengan corak tapis bisa disampirkan sebagai sash di atas kemeja putih, memberikan “anggukan” pada adat tanpa terlihat kaku. Kreativitas ini menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya bisa beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.

Pelestarian dengan Cara Kontemporer

Gerakan ini bukan hanya tentang penampilan. Dengan memilih untuk mengenakan dan memodifikasi Sasirangan, anak muda Banjar secara tidak langsung menjadi agen pelestarian. Mereka menciptakan pasar baru bagi para pengrajin lokal, memastikan bahwa seni ini terus hidup dan memiliki nilai ekonomi. Mereka merawat warisan dengan cara mereka sendiri: bukan dengan mengunci-nya di museum, tetapi dengan menjahitkannya ke dalam identitas mereka yang modern.

Baca juga: 4 Cara Keren Style Batik Kekinian, Dijamin Gak Kuno!

Banjar Core” adalah bukti bahwa budaya itu dinamis. Ia adalah dialog antara masa lalu dan masa kini, antara sungai dan jalanan, antara benang-benang tradisi dan potongan pola masa depan. Di tangan generasi muda Banjar, Sasirangan telah menemukan napas barunya—lebih segar, lebih personal, dan tak terbendung.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Kemendikbud, Indozone, Radar Banjarmasin, Jawa Pos

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU