Senin, 29 SEPTEMBER 2025 • 16:05 WIB

Jejak Sejarah Amuntai: Dari Negara Dipa hingga Warisan Budaya yang Abadi

Author

Ilustrasi Kerajaan Negara Dipa bahari (Dok. Ilustrasi AI)

KALSEL- Kota Amuntai, yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Utara di Kalimantan Selatan, menyimpan jejak sejarah yang kaya dan panjang. Terletak di pertemuan tiga sungai besar—Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan—Amuntai telah menjadi pusat peradaban sejak abad ke-14. Kota ini tidak hanya menjadi saksi bisu kejayaan kerajaan Hindu kuno tetapi juga warisan kolonial Belanda serta tradisi budaya yang masih bertahan hingga kini.

Asal-usul dan Masa Kerajaan Negara Dipa

Amuntai merupakan jantung dari Kerajaan Negara Dipa, kerajaan Hindu yang didirikan oleh Empu Jatmika pada abad ke-14. Kerajaan ini adalah pendahulu Kesultanan Banjar dan menjadi cikal bakal perkembangan budaya dan politik di Kalimantan Selatan.

Menurut Hikayat Banjar, Kerajaan Negara Dipa berlokasi di persimpangan tiga sungai, yang kini dikenal sebagai Amuntai. Salah satu peninggalan terpenting dari era ini adalah Candi Agung, sebuah situs candi Hindu yang dibangun oleh Empu Jatmika. Candi ini diperkirakan berusia sekitar 740 tahun dan menjadi simbol kejayaan kerajaan tersebut.

Baca juga: Pendiri Negara Dipa yang Melegenda, Pangeran Suryanata

Candi Agung, yang terletak di Kelurahan Sungai Malang, Amuntai Tengah, tidak hanya menjadi situs arkeologis tetapi juga pusat religi dan budaya. Bahan material candi didominasi oleh batu yang mirip bata merah namun lebih keras dan kayu ulin yang kokoh. Di sekitar candi, ditemukan berbagai artefak, termasuk tembikar dengan aksara Tionghoa dan pecahan genteng, yang menunjukkan aktivitas manusia sejak era sebelum Masehi.

Masa Kolonial dan Perkembangan Modern

Pada masa kolonial Belanda, Amuntai dikenal sebagai Distrik Amuntai (Amoenthaij atau Amoenthay) dan menjadi bagian dari administrasi Hindia Belanda. Belanda memanfaatkan lokasi strategis Amuntai sebagai pusat perdagangan dan administrasi. Pada tahun 1859, Belanda melantik Kiai Danuraja sebagai kepala daerah setempat, menandai awal pengaruh kolonial yang kuat di wilayah ini.

Pasca kemerdekaan, Amuntai terus berkembang. Pada tahun 1952, Kabupaten Amuntai dibentuk, yang kemudian berganti nama menjadi Kabupaten Hulu Sungai Utara pada tahun 1953. Kota ini juga dikunjungi oleh Presiden Soekarno pada 25 Januari 1953, yang menggelar rapat akbar di Lapangan Pahlawan Amuntai, menandai pentingnya peran Amuntai dalam sejarah Indonesia modern.

Baca juga: Menguak Misteri Kerajaan Negara Dipa, Inilah 5 Fakta Menarik yang Jarang Diketahui

Situs Peninggalan dan Tradisi Budaya

Selain Candi Agung, Amuntai memiliki banyak situs bersejarah lainnya. Masjid Jami’ Babirik (At-Taqwa), yang berdiri sejak 1930, adalah salah satu masjid tertua di Kalimantan Selatan dan menjadi simbol religiousitas masyarakat setempat. Pasar tradisional Amuntai, yang terletak di bantaran Sungai Balangan dan Sungai Negara, pernah menjadi pusat ekonomi dengan pedagang yang menggunakan perahu kayu (jukung) sebagai transportasi utama.

Tradisi budaya juga tetap hidup di Amuntai. Tradisi Basasanggan, yaitu sumbang-menyumbang dalam acara perkawinan, masih dipraktikkan di desa-desa seperti Pimping, Amuntai Utara.

Selain itu, ritual Batampungas Banyu Sumur di kompleks Candi Agung dilakukan untuk menyucikan sumur yang dianggap keramat dan membawa berkah. Tradisi ini mencerminkan akulturasi antara kepercayaan Hindu dan Islam, yang menjadi ciri khas budaya Banjar.

Baca juga: Kisah Cinta Abadi Putri Junjung Buih dan Pangeran Suryanata: Persatuan Langit dan Air di Tanah Banjar

Warisan Budaya yang Lestari

Amuntai bukan hanya kota dengan sejarah panjang, tetapi juga tempat diwarisannya nilai-nilai budaya dari generasi ke generasi. Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah, yang didirikan pada tahun 1922, hingga kini tetap menjadi pusat pendidikan agama yang signifikan. Similarly, kesenian tradisional seperti Lamut, sebuah tradisi lisan yang berasal dari para pedagang Tionghoa pada tahun 1816, masih dilestarikan sebagai bentuk hiburan dan ritual pengobatan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia, Kumparan, Universitas Lambung Mangkurat

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU