KALSEL - Di tengah gempuran merek fashion global, Kalimantan Selatan justru membangun ekosistem fashion lokal yang tumbuh subur berakar pada kekuatan komunitas dan identitas budaya.
Berbekal semangat waja sampai kaputing (kekuatan bagai baja), para pelaku fashion lokal Banua tak hanya bertahan tetapi juga mulai melebarkan sayap hingga ke panggung internasional.
Landasan Komunal: Banua Local Pride
Ekosistem fashion Kalsel ditopang oleh komunitas Banua Local Pride (BLP) yang berperan sebagai wadah kolaborasi bagi puluhan brand lokal. Komunitas ini memfasilitasi pemasaran kolektif, penyelenggaraan bazar, dan event bersama, sehingga merek-merek kecil dapat memperluas jangkauan tanpa terbebani biaya tinggi. Beberapa brand yang tergabung antara lain Furze, Antipop, Blob, dan Khalifah – masing-masing mengusung gaya streetwear dan nuansa lokal Banjar yang kental.
Baca juga: Masa Depan Ketenagakerjaan Kalsel: Dari Sektor Tradisional Menuju Era Digital dan Ekonomi Hijau
Model komunitas seperti BLP terbukti efektif menciptakan sinergi dan mempermudah partisipasi dalam event regional maupun nasional. Bahkan, telah muncul wacana pembangunan Pusat Clothing Line Brand Lokal Banua di Banjarbaru yang dirancang sebagai ruang fisik berbagi toko, flagship store, dan area komunitas untuk event fashion.
La Sabelle: Dari Banjarmasin ke Paris
Salah satu kisah sukses paling inspiratif datang dari La Sabelle, brand modest wear dan scarf yang berhasil tampil di Paris Fashion Week 2022. Keberhasilan ini tidak hanya membuktikan kualitas desainnya yang internasional, tetapi juga membuka peluan bagi desainer lain dari Kalsel untuk diperhitungkan di kancah global.
La Sabelle menghadirkan estetika modest yang kontemporer, menggabungkan nilai-nilai lokal dengan tren global. Capaian ini menjadi bukti bahwa brand yang lahir dari daerah pun mampu bersaing secara global, selama memiliki diferensiasi dan kualitas yang mumpuni.
Baca juga: Perbandingan Unggul Flagship Xiaomi 17 Pro dan iPhone 17 Pro, Kamu Pilih yang Mana?
Mengangkat Identitas Budaya Banjar
Kekuatan lain yang menonjol dari fashion lokal Kalsel adalah pendekatan identity-driven. Banyak brand, seperti Intalu, secara kreatif memasukkan bahasa Banjar, simbol budaya, dan motif tradisional seperti sasirangan ke dalam desain mereka . Hal ini tidak hanya memperkaya narasi produk tetapi juga menjadikannya sebagai cinderamata khas yang memiliki cerita.
Produk-produk ini tidak hanya menjadi pilihan fashion sehari-hari, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan lokal yang mudah diterima sebagai gaya hidup modern maupun oleh-oleh kultural.
Peluang dan Tantangan Ke Depan
Untuk terus berkembang, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan akademisi sangat dibutuhkan. Pelatihan teknis seperti pattern-making, manajemen bisnis, dan pemasaran digital dapat membantu brand meningkatkan kapasitas produksi dan perluasan pasar.
Baca juga: Mengenal Pusat Perbelanjaan Terbaik di Kalimantan Selatan: Dari Duta Mall hingga Q Mall
Selain itu, penguatan platform pemasaran bersama – baik melalui pasar daring maupun event fizik – akan membantu menekan biaya operasional dan meningkatkan daya saing. Dengan strategi yang tepat, fashion lokal Kalsel berpotensi tidak hanya menguasai pasar regional, tetapi juga semakin sering terdengar di kancah internasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Prokal, Kalimantan Live, Universitas Lambung Mangkurat