Bandara Udara Internasional Syamsudin Noor (BDJ) pada tahun 2021 (Pinterest/Din')
KALSEL - Kalimantan Selatan tidak hanya kaya akan budaya dan alam, tetapi juga memiliki infrastruktur transportasi udara yang vital bagi perekonomian dan konektivitas regional. Dari bandara internasional hingga bandara industri, berikut adalah potret lengkap gerbang udara di Bumi Banjar ini.
Sebagai bandara terbesar dan tersibuk di Kalimantan Selatan, Bandara Internasional Syamsudin Noor (BDJ) memiliki sejarah panjang sejak didirikan tahun 1936 dengan nama Lapangan Terbang Ulin. Bandara ini terletak di Banjarbaru dan melayani wilayah Banjarmasin serta sekitarnya, dengan kapasitas terminal baru yang mampu menampung hingga 10 juta penumpang per tahun.
Yang unik dari bandara ini adalah desain terminalnya yang memadukan modernitas dengan kearifan lokal. Dari udara, bangunan terminal menyerupai kelotok (perahu tradisional Banjar) dengan atap berbentuk berlian Martapura, dilengkapi ornamen sasirangan di dalamnya. Bandara ini kembali menyandang status internasional pada Juni 2025 setelah sempat turun menjadi bandara domestik pada April 2024.
Baca juga: Tepati Janji, Pesawat Rute Jember - Jakarta Mendarat di Bandara Notohadinegoro
Bandara Gusti Syamsir Alam (KBU) di Kotabaru menjadi akses udara penting di wilayah pesisir timur Kalsel. Bandara ini memiliki landasan pacu 1.650 meter yang rencananya akan diperpanjang hingga 2.650 meter untuk mendukung pesawat yang lebih besar.
Bandara Bersujud (BTW) di Batulicin awalnya dibangun untuk mobilisasi transmigran pada tahun 1980-1983. Kini bandara ini menjadi infrastruktur vital bagi masyarakat di wilayah pesisir tenggara, khususnya dalam mendukung aktivitas industri pertambangan dan perkebunan.
Bandara Warukin (TJG) di Tabalong sebelumnya digunakan terutama untuk kepentingan industri migas, namun kini telah berkembang menjadi bandara umum. Bandara ini sangat penting bagi kawasan utara Kalimantan Selatan yang merupakan pusat kegiatan energi dan pertambangan.
Bandara Mekar Putih di Kotabaru merupakan bandara khusus yang dikelola PT Indonesia Bulk Terminal (IBT). Bandara ini berperan dalam mendukung aktivitas sektor energi dan pertambangan di kawasan Kotabaru, meskipun belum sepenuhnya terbuka untuk penerbangan umum reguler.
Pemprov Kalsel berkomitmen meningkatkan pelayanan dan infrastktur bandara, termasuk penambahan runway Bandara Syamsudin Noor sepanjang 500 meter yang ditargetkan terealisasi pada 2026. Pengembangan ini bertujuan agar pesawat berbadan besar dapat mendarat langsung tanpa perlu technical landing di bandara lain.
Keberadaan bandara-bandara ini tidak hanya penting untuk mobilitas manusia, tetapi juga menjadi nadi ekonomi daerah. Bandara Syamsudin Noor saja mencatat lebih dari 3,8 juta penumpang pada 2018, angka yang dipastikan meningkat pasca pandemi.
Baca juga: 3 Rekomendasi Game Buatan Indonesia yang Seru Dimainkan Berdua via HP
Dengan kembalinya status internasional Bandara Syamsudin Noor, Kalsel kini memiliki peluang besar untuk membuka rute langsung ke Jeddah, Madinah, serta negara-negara tetangga seperti Kuala Lumpur, Singapura, dan Brunei Darussalam. Langkah ini akan memperkuat posisi Kalsel sebagai destinasi utama, bukan sekadar persinggahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Traveloka, Diskominfo Kalsel, Wikipedia