Rabu, 30 JULI 2025 • 20:30 WIB

Pamali Banjar Bagian Dari Kearifan Lokal yang Tidak Tertulis

Author

Bersepeda bersama teman teman di pagi hari yang asri (Pinterest/kamalieditor)

Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan masih menyimpan sistem norma tidak tertulis yang menjadi panduan hidup turun-temurun.

Budaya bertaku, atau lebih dikenal sebagai pamali, bukan sekadar larangan usang, melainkan jantung kearifan lokal yang mengatur tata krama, hubungan sosial, hingga siklus hidup manusia. Seperti diungkap dalam penelitian, pamali merupakan "local genius" yang membentuk karakter dan identitas kolektif masyarakat Banjar.

Akar Filosofis Pamali: Lebih dari Sekadar Mitos

Pamali tumbuh dari pengalaman kolektif masyarakat Banjar yang diwariskan secara lisan jauh sebelum literasi menyebar. Ia berakar pada sistem kepercayaan tradisional yang memadukan nilai agama, etika, dan relasi manusia dengan alam.

Dalam struktur masyarakat Banjar, pamali berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial tanpa perlu aparat. Pelanggaran diyakini membawa konsekuensi, baik secara sosial seperti celaan dan pengucilan, maupun non-fisik berupa "kualat" (kemurkaan alam semesta).

"Pamali menjadi tameng nilai luhur tradisi lisan dalam menangkal pengaruh budaya luar yang merusak sikap hidup masyarakat"
— Hatmiati, Akademisi dan Peneliti Budaya Banjar

Fungsi Multidimensional Pamali

1. Pendidikan Karakter
Pamali menjadi instruktur tak bersuara yang mengajarkan kesopanan, respek pada orang tua, dan kehati-hatian bertindak. Misalnya, larangan memanggil orang dengan sebutan kasar melatih kesantunan berbahasa sejak kecil.

Baca juga: Gaya Hidup Anak Muda Banjar: Harmoni Budaya, Hemat, dan Kreativitas Digital

2. Pelindung Keseimbangan Sosial
Dalam konteks kehamilan, pamali seperti "dilarang merunduk terlalu rendah" bagi ibu hamil bukan tanpa dasar. Larangan ini mengandung prinsip kesehatan preventif untuk mencegah tekanan berlebihan pada janin, sekaligus menjaga martabat perempuan.

3. Penjaga Kohesi Komunal
Ritual perkawinan adat Banjar dipenuhi pamali yang memperkuat ikatan keluarga. Misalnya, "kawin gantung" (pernikahan dimana pengantin belum boleh tinggal bersama karena usia istri yang belum cukup) mencerminkan perlindungan terhadap anak perempuan.

Pamali dalam Ritual Hidup Masyarakat Banjar
Balai Bahasa Banjarmasin mencatat pamali menyentuh 12 aspek hidup manusia. Beberapa contoh krusial:

- Perkawinan: Calon pengantin dilarang saling melihat di bawah tangga karena dipercaya mengundang sial. Ada pula tradisi "baantaran jujuran" (pemberian maskawin) yang diatur ketat untuk menghindari konflik.
- Kelahiran: Bayi tidak boleh dibawa keluar saat senja, didasari kekhawatiran paparan udara malam dan roh jahat.
- Mata Pencaharian: Nelayan tradisional memiliki pamali melaut hari tertentu, yang secara ekologis memberi waktu regenerasi ikan.

Gempuran globalisasi mengubah relasi generasi muda dengan pamali. Studi menunjukkan 85% generasi tua masih memegang teguh pamali, sementara generasi Z menganggapnya mitos ketinggalan zaman. Fenomena ini terlihat nyata saat senja; gadis-gadis remaja tak lagi terhalang pamali "bibinian bujang ka luar hari sanja" (larangan perempuan keluar saat senja).

Strategi pelestarian inovatif pun muncul:

1. Pola Asuh Berbasis Kearifan
Keluarga Banjar urban memadukan pola asuh otoritatif dan tradisional, mengajarkan pamali sebagai bentuk kecintaan pada budaya, bukan ancaman.

Baca juga: Gimana Kalau Pasar Terapung Buka 24 Jam? Antara Mitos dan Realita

2. Dokumentasi dan Media
RRI Pro 4 Banjarmasin aktif menyosialisasikan pamali melalui program budaya, mengurai makna filosofis di balik larangan yang sering disalahpahami.

3. Integrasi dengan Nilai Universal
Pemuka adat mengaitkan pamali dengan prinsip kesehatan modern dan ekologi, seperti larangan merusak hutan "tanggap" (keramat) yang relevan dengan konservasi lingkungan.

Pamali di Persimpangan Zaman

Pamali bukan kitab kaku yang menolak kemajuan. Ia sistem nilai hidup yang terus bernegosiasi dengan realitas baru. Masyarakat Banjar cerdas memilah; mempertahankan pamali yang melindungi martabat manusia dan lingkungan, sambil meninggalkan larangan yang tak relevan.

Kekuatan pamali justru terletak pada fungsinya sebagai perekat sosial di tengah derasnya individualisme modern. Seperti disimpulkan dalam kajian UIN Antasari, "Adat badamai" (penyelesaian sengketa) masyarakat Banjar tetap mengandalkan pamali sebagai panduan resolusi konflik yang menjaga keharmonisan komunitas.

Di tangan generasi muda yang melek budaya, pamali tidak akan mati—melainkan bertransformasi dari larangan menakutkan menjadi kode etik berbasis kebijaksanaan leluhur yang tetap relevan untuk masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Detik News, FS UIN Antasari, RRI Pro 4 Banjarmasin

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU