Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 14 SEPTEMBER 2025 • 10:00 WIB

Pangeran Antasari: Simbol Perlawanan yang Abadi dari Bumi Banjar

Pangeran Antasari: Simbol Perlawanan yang Abadi dari Bumi BanjarPahlawan asal Kalsel, Pangeran Antasari (Pinterest/Marnos Comics)

KALSEL – Pangeran Antasari, pahlawan nasional dari Kabupaten Banjar, memimpin Perang Banjar melawan kolonial Belanda dengan semangat "Haram Manyarah Waja Sampai Ka Puting". 

Dalam catatan sejarah perjuangan Indonesia, nama Pangeran Antasari dari Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, bersinar sebagai simbol ketangguhan dan perlawanan terhadap penjajahan. Lahir pada tahun 1809 di Kayu Tangi, Martapura, ia adalah cucu dari Pangeran Amir, seorang pewaris tahta Kesultanan Banjar yang gagal naik takhta akibat campur tangan Belanda.

Meski berasal dari keluarga bangsawan, Pangeran Antasari dibesarkan di luar istana, sehingga ia memahami betul penderitaan rakyat kecil. Kedekatannya dengan rakyat inilah yang kelak membentuknya menjadi pemimpin yang disegani dan dicintai .

Baca juga: Ratu Zaleha: Kisah Kepahlawanan Perempuan Banjar yang Gigih Melawan Penjajah

Perang Banjar (1859–1906) menjadi babak penting dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Pangeran Antasari memimpin serangan terhadap tambang batu bara Belanda di Pengaron pada 25 April 1859, yang menandai dimulainya perlawanan besar-besaran.

Dengan dukungan suku-suku lokal seperti Dayak Ngaju, Maanyan, dan Bakumpai, ia menyatukan kekuatan untuk melawan penjajah. 

Strategi perang gerilya yang digunakannya membuat Belanda kewalahan, bahkan mereka pernah menawarkan hadiah 10.000 gulden bagi siapa pun yang bisa menangkap atau membunuhnya—tantangan yang tidak pernah berhasil dipenuhi .

Pada 14 Maret 1862, Pangeran Antasari dinobatkan sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, yang menegaskan perannya bukan hanya sebagai pemimpin pemerintahan, tetapi juga sebagai panglima perang dan pemuka agama tertinggi . Pengangkatan ini mencerminkan kesatuan rakyat Banjar yang terdiri dari berbagai suku dan agama.

Baca juga: Pangeran Antasari Dengan Kisah Kepahlawanan dan Perlawanan Gigih dari Tanah Banjar

Sayangnya, perjuangannya harus terhenti ketika ia wafat pada 11 Oktober 1862 akibat wabah cacar yang melanda wilayah pedalaman Kalimantan . Namun, semangatnya tidak pernah padam; perjuangan dilanjutkan oleh putranya, Muhammad Seman, hingga tahun 1905 .

Warisan Pangeran Antasari tetap hidup hingga kini. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1968 melalui SK Presiden No. 06/TK/1968 . Namanya diabadikan dalam berbagai bentuk, seperti Korem 101/Antasari, julukan "Bumi Antasari" untuk Kalimantan Selatan, dan gambar pada uang kertas Rp2.000 . Semboyannya, "Haram Manyarah Waja Sampai Ka Puting" (tidak akan menyerah sampai titik darah penghabisan), terus menginspirasi generasi muda untuk mencintai tanah air dan memperjuangkan keadilan .

Pangeran Antasari tidak hanya menjadi kebanggaan Kabupaten Banjar, tetapi juga Indonesia secara keseluruhan. Kisah hidupnya mengajarkan nilai-nilai kepemimpinan, keberanian, dan keteguhan hati.

Sebagai tokoh yang memperjuangkan hak rakyat hingga akhir hayat, ia adalah bukti bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan tidak pernah sia-sia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia, Detik.com, Kumparan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Pangeran Antasari: Simbol Perlawanan yang Abadi dari Bumi Banjar

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!