Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 08 SEPTEMBER 2025 • 14:00 WIB

Kalsel di Ujung Tanduk: Hutan Primer Tinggal 50 Ribu Hektar, Data Satelit Ungkap Tekanan Ekstraktif

Kalsel di Ujung Tanduk: Hutan Primer Tinggal 50 Ribu Hektar, Data Satelit Ungkap Tekanan EkstraktifPemandangan alam yang indah (Pinterest/Kikiwsukaalam)

KALSEL – Tahukah kamu bahwa hutan alam yang masih tersisa di Kalimantan Selatan (Kalsel) mungkin jauh lebih sedikit dari yang dibayangkan? Di balik angka-angka administratif yang masif, tersembunyi sebuah realita yang memprihatinkan dimana hutan primer, paru-paru tua yang berharga, nyaris punah.

Berdasarkan penetapan resmi Pemerintah Provinsi, luas Kawasan Hutan Kalsel mencapai 1,73 juta hektar. Angka ini, yang tercatat dalam Perda RTRW dan data Dinas Kehutanan setempat, menggambarkan peta ambisi pengelolaan dan konservasi. Namun, angka ini adalah cetak biru administratif, bukan cerminan kondisi di lapangan. Kawasan yang ditetapkan sebagai hutan belum tentu masih ditutupi pepohonan.

Lantas, berapa sebenarnya tutupan hutan alam (natural forest) yang masih berdiri tegak? Di sinilah data independen berbasis satelit berbicara. Platform Global Forest Watch (GFW) memotret kondisi nyata dari langit. Analisis mereka menunjukkan bahwa tutupan hutan alam Kalsel hanya berkisar 721.000 hektar.

Baca juga: Danau-danau Estetik di Kalimantan Selatan: Surga Tersembunyi untuk Spot Foto Ikonik

Artinya, terdapat kesenjangan yang sangat lebar antara yang ditetapkan di atas kertas dan yang ada di lapangan. Banyak area yang secara hukum berstatus kawasan hutan telah mengalami alih fungsi, degradasi, atau kebakaran.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah nasib hutan primer—ekosistem yang masih perawan, kaya keanekaragaman hayati, dan memiliki nilai konservasi tertinggi. Laporan analisis dari WALHI Kalimantan Selatan memberikan gambaran yang suram: hutan primer di Kalsel diperkirakan hanya tersisa 49.958 hektar. Angka yang sangat kecil untuk sebuah provinsi yang luasnya hampir 3,7 juta hektar. Ini adalah tanda darurat ekologis.

Lalu, kemana hilangnya hutan-hutan itu? Tekanan utama datang dari industri ekstraktif. WALHI Kalsel mencatat beban izin untuk perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang mencakup area sangat luas, mencapai 2,5 juta hektar. Izin tumpang tindih seringkali terjadi di dalam kawasan hutan yang ditetapkan, mempercepat laju deforestasi dan fragmentasi habitat.

Baca juga: Kuis: Kamu Lebih Cocok Jadi Bekantan, Buaya, atau Elang di Kalsel?

Perbedaan angka dari ketiga sumber ini bukanlah kontradiksi, melainkan puzzle yang saling melengkapi untuk memahami krisis yang terjadi.

Kalimantan Selatan sedang berlari melawan waktu. Upaya konservasi tidak bisa lagi hanya berpatokan pada luas kawasan hutan di atas peta, tetapi harus fokus pada perlindungan ketat terhadap sisa-sisa tutupan hutan alam, terutama belasan ribu hektar hutan primer yang sangat kritis itu. Masa depan ekologi Kalsel bergantung pada langkah-langkah nyata yang diambil hari ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, Global Forest Watch, WALHI

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kalsel di Ujung Tanduk: Hutan Primer Tinggal 50 Ribu Hektar, Data Satelit Ungkap Tekanan Ekstraktif

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!