Ilustrasi kue tradisional Balikuhai asal Kalimantan Selatan yang mirip Waffle (Dok. Ilustrasi AI)
Kalimantan Selatan memiliki kekayaan kuliner yang unik, salah satunya adalah Balikuhai. Kue ini sekilas mirip wafel, tetapi dengan cita rasa dan bahan yang berbeda. Balikuhai terbuat dari tepung beras, santan, dan gula merah, menjadikannya lebih padat dan beraroma khas dibanding wafel modern. Sayangnya, kue ini kini semakin langka dan hanya bisa ditemui di beberapa tempat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Baca juga: Rahasia Kenikmatan Amparan Tatak: Kudapan Manis Khas Banjar
Asal-usul dan Keunikan Balikuhai
Nama "Balikuhai" berasal dari bahasa Banjar yang berarti "kue yang dibolak-balik". Hal ini merujuk pada cara pembuatannya, di mana adonan dipanggang dalam cetakan khusus dan dibolak-balik agar matang merata. Menurut Putri Pariwisata Hulu Sungai Tengah tahun 2023, Noor Mila Amalia, nama ini muncul dari kebiasaan seorang ibu yang menyuruh anaknya membalik kue agar tidak gosong dengan ucapan, "Balik luhai biar kada hangit".
Balikuhai juga dikenal sebagai bagian dari "Wadai 41", kumpulan kue tradisional Banjar yang memiliki nilai budaya tinggi. Dahulu, kue ini digunakan sebagai sesajen dalam ritual Hindu, tetapi setelah Islam masuk, fungsinya bergeser menjadi hidangan dalam perayaan seperti Baayun Maulid atau Batamat Al-Qur'an.
Bahan dan Proses Pembuatan
Berbeda dengan wafel yang menggunakan tepung terigu, Balikuhai dibuat dari tepung beras, santan, telur bebek, gula merah, dan rempah adas. Proses pembuatannya pun unik:
Baca juga: Es Campur Khas Kalsel: Pelepas Dahaga Saat Cuaca Panas
1. Santan direbus hingga mengeluarkan minyak, lalu dicampur dengan gula merah.
2. Campuran ini dituang sedikit demi sedikit ke tepung beras sambil diaduk.
3. Telur bebek dikocok dan ditambahkan ke adonan untuk memberikan kelembutan.
4. Adonan dituang ke cetakan dan dipanggang dengan api kecil sambil dibolak-balik.
5. Saat dipanggang, kue diberi percikan campuran telur dan mentega menggunakan daun pandan sebagai kuas.
Setelah matang, Balikuhai biasanya dibungkus daun pisang untuk menjaga kehangatan dan aroma.
Kondisi Saat Ini dan Upaya Pelestarian
Kini, Balikuhai semakin sulit ditemui. Hanya ada dua penjual yang masih memproduksinya di Barabai, yaitu Hj. Suhrah di Pasar Barabai dan satu lagi di Pasar Pantai Hambawang. Hj. Suhrah sendiri telah membuat kue ini selama 15 tahun dengan resep turun-temurun.
Meski langka, Balikuhai memiliki potensi ekonomi yang besar. Harganya terjangkau, sekitar Rp 3.000 untuk empat kue, dan bisa bertahan hingga lima hari. Kue ini juga pernah ditampilkan dalam Festival Budaya Pasar Terapung di Banjarmasin sebagai upaya memperkenalkannya kepada masyarakat luas
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Radar Banjarmasin