Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel) resmi memperingati Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) ke-33 Tahun 2026 dengan sebuah pesan mendalam yang berfokus pada reposisi peran orang tua. Mengusung tema besar “Ayah Wajib Hadir”, peringatan tahun ini menjadi gerakan masif untuk memperkuat ketahanan keluarga. Langkah ini juga menjadi strategi krusial dalam mendorong peran aktif seorang ayah dalam pengasuhan anak demi mewujudkan generasi bebas stunting menuju Indonesia Emas 2045.
Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Syarifuddin, menegaskan bahwa momentum HARGANAS harus menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat bahwa lingkungan rumah adalah madrasah pertama bagi anak. Pendidikan karakter dan pembentukan mental generasi penerus bangsa dimulai dari bagaimana orang tua memperlakukan anak-anak mereka di dalam rumah.
Syarifuddin menjelaskan bahwa pesan dari Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sangatlah lugas: rumah merupakan tempat pendidikan terbaik. Oleh karena itu, orang tua dituntut untuk memberikan perhatian total. Secara khusus, figur ayah harus mampu meruntuhkan dinding pembatas tradisional dan hadir sebagai sosok yang dekat serta terlibat langsung dalam setiap fase tumbuh kembang anak. Pemprov Kalsel berharap esensi HARGANAS tidak menguap sebagai seremonial belaka, melainkan menjadi pemantik komunikasi dan pendampingan anak yang lebih intens agar mereka terhindar dari dampak negatif lingkungan luar.
Kehadiran Emosional: Lebih dari Sekadar Berada di Rumah
Senada dengan hal tersebut, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Selatan, Lisna Prihantini, memberikan bedah konsep yang lebih spesifik mengenai tema "Ayah Wajib Hadir". Menurutnya, kehadiran seorang ayah tidak boleh terjebak pada dimensi fisik atau sekadar memenuhi kebutuhan finansial semata. Ayah wajib hadir secara emosional dan psikologis di dalam ruang hidup anak.
BKKBN Kalsel menekankan bahwa kolaborasi yang seimbang antara ayah dan ibu adalah kunci utama membangun ketahanan domestik. Meluangkan waktu berkualitas (quality time) meskipun hanya 15 menit setiap hari untuk mengobrol, mendengarkan cerita anak, dan mendampingi mereka beraktivitas, sudah memberikan dampak psikologis yang sangat besar bagi perkembangan saraf dan emosi anak.
Sinergi Lintas Sektor dan Intervensi Stunting di Banua
Peringatan HARGANAS ke-33 di Banjarbaru ini tidak hanya menyoroti aspek pola asuh (parenting), tetapi juga diisi dengan aksi nyata di lapangan. Pemprov Kalsel bersama BKKBN menyalurkan bantuan langsung kepada keluarga yang masuk dalam kategori berisiko stunting. Bantuan yang diberikan meliputi pembangunan jamban sehat untuk sanitasi yang layak serta pemenuhan bantuan nutrisi esensial.
Meskipun tren kasus stunting secara nasional dan di Kalimantan Selatan terus menunjukkan kurva penurunan, Lisna Prihantini mengingatkan agar semua pihak tidak lengah. Beberapa wilayah di Banua terpantau masih memiliki angka stunting yang cenderung stagnan.
Tantangan ini menuntut adanya konvergensi dan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan. Penanganan stunting yang efektif memerlukan integrasi kerja antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, akademisi, hingga kader di tingkat desa. Melalui sinergi yang kuat di bawah kepemimpinan Pemprov Kalsel, perubahan perilaku masyarakat dalam pola makan dan pengasuhan diharapkan dapat dipercepat, demi melahirkan generasi Banua yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Diskominfo Kalsel