Pembangunan Jembatan Pulaulaut yang menjadi dambaan masyarakat Kalimantan Selatan kini memasuki babak baru. Sejak penandatanganan kontrak pada Maret 2026, proyek yang menghubungkan daratan utama di Batulicin (Kabupaten Tanah Bumbu) dengan Pulau Laut di Kotabaru ini terus menunjukkan tren positif. Kehadiran infrastruktur ini diprediksi akan menjadi urat nadi baru yang mengubah wajah ekonomi di pesisir tenggara Kalimantan.
Sinergi Lintas Sektor melalui Tim Koordinasi Khusus
Mengingat skala proyek yang sangat besar dan melibatkan berbagai tingkatan pemerintahan, sinkronisasi menjadi kunci utama. Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, Roy Rizali Anwar, baru-baru ini melakukan peninjauan langsung ke lokasi proyek. Hasil dari monitoring tersebut adalah instruksi untuk segera membentuk tim koordinasi khusus.
Langkah ini diambil untuk menyelaraskan pengerjaan yang terbagi dalam beberapa kewenangan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bertanggung jawab atas dua bagian jembatan pendekat (oprit), sementara bentang tengah jembatan berada di bawah kendali Kementerian PU. Dengan adanya tim koordinasi, integrasi teknis mulai dari perhitungan material hingga penanganan kendala pasokan semen dan pasir dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran.
Detail Teknis dan Pembagian Paket Kerja
Proyek Jembatan Pulaulaut merupakan mahakarya infrastruktur yang dikerjakan oleh konsorsium perusahaan-perusahaan konstruksi pelat merah ternama di Indonesia. Pengerjaannya terbagi menjadi tiga paket utama:
- Sisi Batulicin: Membentang sepanjang 1 kilometer, dikerjakan oleh konsorsium PT PP, PT Waskita Karya, dan PT Borneo Berkah Abadi dengan nilai investasi mencapai Rp1 triliun.
- Sisi Kotabaru: Memiliki panjang 1,5 kilometer, dilaksanakan oleh PT Nindya Karya dan PT Brantas Abipraya dengan anggaran sekitar Rp993 miliar.
- Bentang Tengah: Sebagai bagian tersulit sepanjang 500 meter, pekerjaan ini dipercayakan kepada PT Hutama Karya dan PT Adhi Karya dengan total anggaran Rp2,8 triliun.
Saat ini, aktivitas alat berat di lapangan terlihat sangat masif. Di sisi Batulicin, lima unit alat bore pile telah beroperasi penuh, dengan rencana penambahan unit dari Pulau Jawa. Sementara di sisi Kotabaru, tiga unit alat serupa telah bekerja secara simultan untuk memastikan fondasi jembatan selesai tepat waktu.
Dampak Ekonomi dan Konektivitas KEK Mekar Putih
Salah satu fokus utama dari pembangunan ini adalah mendukung aksesibilitas menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mekar Putih. Dirjen Bina Marga menekankan pentingnya kualitas sambungan jalan di sisi utara dan selatan agar mampu menahan beban logistik berat di masa depan tanpa memerlukan perbaikan berulang setelah jembatan diresmikan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan optimistis bahwa proyek multiyears periode 2026–2028 ini akan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi. Dengan terpangkasnya waktu tempuh antara Kotabaru dan daratan utama, distribusi barang dan jasa akan semakin efisien. Keberadaan jembatan ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan simbol kemajuan konektivitas yang akan membuka peluang investasi baru di sektor industri, pariwisata, dan perdagangan di Kalimantan Selatan.
Dukungan penuh dari pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat menjaga momentum pembangunan ini agar selesai sesuai target pada tahun 2028, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat Banua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Diskominfo Kalsel