Tambang Oranje Nassau, Situs Kolonial Belanda yang Menyimpan Jejak Industri Pertambangan Tertua di Indonesia
Di tengah hijaunya Pegunungan Meratus, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, tersembunyi Situs Tambang Batu Bara Oranje Nassau—saksi bisu eksploitasi sumber daya alam Indonesia di masa kolonial. Dibuka pada 28 September 1849 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Jacob Rochussen, tambang ini tercatat sebagai pertambangan batu bara tertua di Indonesia, bahkan lebih tua dari Tambang Ombilin di Sumatera.
Lokasi dan Kondisi Fisik
Terletak di Desa Lok Tunggul, Kecamatan Pengaron, situs seluas 169,6 m² ini dikelilingi perbukitan Gunung Pagaran dan diapit dua sungai: Riam Kiwa di utara dan Maniapun Kecil di selatan. Kawasan ini masuk dalam Geopark Meratus dan tersusun atas batuan Formasi Tanjung berumur 65–36,5 juta tahun (Eosen), yang mengandung lapisan batu bara berkualitas tinggi.
Baca juga: Menyusuri Jejak Perlawanan Rakyat Banjar di Kalimantan Selatan dalam Museum Wasaka
Sejarah Kelam Eksploitasi Kolonial
Awalnya, lahan tambang adalah hak apanase (tanah lungguh) Kesultanan Banjar yang dipegang Mangkubumi Kencana. Belanda menyewanya dengan bayaran 10.000 gulden per tahun dan memberikan kompensasi 40 gulden per ton batu bara yang dihasilkan. Produksi awal mencapai 10.000 ton/tahun, dimanfaatkan untuk kebutuhan angkatan laut Belanda.
Namun, operasi tambang ini diwarnai konflik politik dan penderitaan pekerja. Buruh terdiri dari orang-orang berhutang dan narapidana yang dipaksa bekerja dengan upah murah. Kondisi ini memicu kemarahan rakyat Banjar, hingga akhirnya tambang ini menjadi salah satu target serangan dalam Perang Banjar (1859–1905).
Meski beroperasi hanya hingga 1884 akibat kebakaran dan perlawanan rakyat, situs ini menyisakan struktur menarik:
- Sumur Putaran: Lubang vertikal bekas penggalian batubara.
- Bangunan Mesin: Sisa fondasi tempat mesin uap dipasang.
- Lorong Bawah Tanah: Jejak jaringan tambang yang kini diteliti oleh Balai Arkeologi Kalimantan Selatan.
Potensi Wisata Edukasi
Kini, Oranje Nassau dikembangkan sebagai geowisata oleh Geopark Meratus. Pengunjung bisa:
1. Menelusuri Jejak Sejarah: Melihat langsung sisa infrastruktur tambang abad ke-19.
2. Memahami Proses Geologi: Batubara di sini terbentuk dari endapan laut dangkal purba.
3. Mendengar Kisah Perlawanan: Peran Prince Antasari dan rakyat Banjar melawan penjajahan.
Baca juga: Khazanah Intelektual Banjar: Tiga Pilar Peradaban Kalimantan Selatan
Tips Berkunjung:
- Bawa pemandu lokal untuk penjelasan mendalam.
- Kunjungi saat musim kemarau agar akses lebih mudah.
- Gabungkan dengan wisata alam di Geopark Meratus.
Tambang Oranje Nassau bukan sekadar lubang tua, melainkan monumen hidup yang mengajak kita merefleksikan dampak kolonialisme sekaligus kekayaan geologis Nusantara. Situs ini cocok bagi pencinta sejarah, geologi, atau siapa pun yang ingin memahami akar industri pertambangan Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Geopark Meratus, Kompas.com