Menunaikan ibadah haji merupakan impian besar bagi setiap umat Muslim di seluruh dunia. Mengingat daftar tunggu yang bisa mencapai puluhan tahun, keberangkatan ke Tanah Suci adalah sebuah berkah dan mukjizat yang wajib disyukuri.
Hal ini ditegaskan oleh Anggota DPR RI Komisi VIII asal Kalimantan Selatan, Sudian Noor, saat memberikan sambutan hangat dalam acara penerimaan jamaah haji Kloter BDJ 18 di Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin. Jamaah yang tergabung dalam kloter ini berasal dari Kabupaten Tanah Bumbu, Hulu Sungai Selatan, dan Kabupaten Banjar.
Dalam arahannya, Sudian Noor memberikan beberapa wejangan penting dan strategi bagi para jamaah agar dapat menjalankan ibadah dengan lancar, sehat, hingga kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur.
Menjaga Fisik dan Stamina Menjelang Puncak Armuzna
Salah satu poin krusial yang disampaikan oleh Sudian Noor adalah mengenai manajemen fisik. Menjalankan ibadah haji membutuhkan ketahanan tubuh yang luar biasa karena melibatkan aktivitas fisik yang padat di tengah perbedaan cuaca yang ekstrem.
Beliau mengingatkan para jamaah agar tidak terlalu memaksakan diri dalam mengejar ibadah-ibadah sunnah secara berlebihan pada hari-hari pertama kedatangan. Fokus utama yang harus dijaga adalah stamina menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
“Jangan dipaksakan terus beribadah sunnah sampai kelelahan. Banyak jamaah yang berangkat duluan sudah kelelahan sebelum puncak haji. Jaga fisik sampai Armuzna nanti,” pesan Sudian Noor tegas.
Dengan menjaga ritme aktivitas, jamaah diharapkan tidak jatuh sakit saat momen-momen wajib haji dimulai.
Menjaga Hati, Lisan, dan Manajemen Komplain
Selain kesiapan fisik, kesiapan mental dan spiritual juga memegang peranan yang tidak kalah penting. Tanah Suci adalah tempat yang mustajab untuk berdoa, di mana setiap ucapan dan bisikan hati bisa menjadi kenyataan. Oleh karena itu, Sudian Noor mengimbau jamaah untuk selalu menjaga lisan, memperbanyak prasangka baik, serta menghindari keluhan.
Ujian di Tanah Suci sering kali hadir dalam bentuk fasilitas seperti jarak hotel yang jauh atau menu makanan yang tidak sesuai dengan selera lokal di kampung halaman. Menghadapi hal ini, Sudian Noor mengajak jamaah untuk mengubah pola pikir (mindset). Jika hati kita dekat dengan Allah, maka jarak yang jauh akan terasa dekat. Begitu pula dengan makanan, semuanya harus disyukuri sebagai rezeki yang diberikan Allah melalui para petugas haji.
Utamakan Kebersamaan dan Solidaritas Antarjamaah
Ibadah haji adalah ibadah masal yang melibatkan jutaan manusia. Sudian Noor mengingatkan pentingnya rasa kebersamaan, terutama di dalam rombongan Kloter BDJ 18. Beliau meminta agar tidak ada jamaah yang ditinggalkan sendirian di kamar hotel, khususnya saat waktu salat Jumat bagi jamaah laki-laki maupun perempuan.
Solidaritas ini juga mencakup kerelaan untuk saling menolong, terutama bagi jamaah yang berusia lanjut (lansia) atau mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Sikap saling membantu ini tidak hanya mempermudah jalannya ibadah, tetapi juga memupuk pahala sosial di tanah suci.
Dengan menjalani seluruh rangkaian ibadah dengan hati yang bahagia, ikhlas, serta memperbanyak takbir di Mekkah dan shalawat di Madinah, semua ujian akan terasa ringan. Perjalanan spiritual ini diharapkan membawa berkah mendalam, menjadikan seluruh jamaah kembali ke Banua Kalimantan Selatan sebagai haji yang mabrur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Https://kalsel.haji.go.id/