kereta cepat Jakarta-Bandung (Pinterest/La Vie Zine)
KALIMANTAN SELATAN - Jakarta dan Kota Banjar dipisahkan oleh jarak fisik sekitar 339 km yang bisa ditempuh dalam 8-10 jam perjalanan darat. Namun, kesenjangan teknologi antara ibu kota Kalimantan Selatan dan mantan ibu kota negara berdasarkan perkembangan terkini, meski jurang masih ada, geliat transformasi digital di Banjar mulai menunjukkan kemajuan signifikan.
🔍 Infrastruktur Digital
Jakarta menikmati infrastruktur internet mutakhir dengan kecepatan tinggi dan cakupan luas. Sementara Banjar masih bergulat dengan tantangan dasar yaitu ketersediaan jaringan dan kualitas koneksi yang belum merata, terutama di kawasan perdesaan dan menjadi sebuah kendalam penghambat utama adopsi teknologi di masyarakat. Dengan upaya dari pemerintah setempat untuk memperluas akses internet masih terus berjalan.
Baca juga: Penggunaan dan Penerimaan AI di Kalangan Masyarakat Kalimantan Selatan dengan Dampak yang Diberikan!
📚 Literasi Digital
Perpustakaan Kota Banjar menjadi contoh nyata komitmen pemerataan akses pengetahuan. Melalui terobosan aplikasi mobile dan platform e-library, warga kini bisa mengakses ribuan buku digital, jurnal, dan layanan referensi online tanpa batas fisik. Inisiatif ini merupakan respons cerdas atas keterbatasan koleksi fisik dan jarak geografis.
Selain itu, program pelatihan teknologi untuk guru madrasah hasil kolaborasi dengan Kemenag menunjukkan kesadaran akan pentingnya peningkatan kapasitas pendidik. Namun, intensitas dan jangkauan program sejenis masih kalah jika dibandingkan dengan pelatihan berbasis teknologi yang rutin diadakan di Jakarta.
Baca juga: Estetika Jembatan Barito dari Berbagai Sudut
🏛️ Layanan Publik
Pemerintah Kota Banjar merespons tantangan digital dengan beberapa terobosan:
• Sistem pengelolaan perpustakaan berbasis TIK yang mempercepat proses peminjaman dan pengembalian buku
• Layanan chat langsung dengan pustakawan melalui aplikasi mobile
• Pengembangan website resmi sebagai portal informasi terintegrasi
Inovasi ini patut diapresiasi meskipun belum menyamai kedalaman dan ragam aplikasi layanan publik digital di Jakarta seperti sistem transportasi terintegrasi atau platform kesehatan digital berskala besar.
Gap teknologi Jakarta-Banjar masih nyata, terutama dalam kualitas infrastruktur dan kedalaman adopsi teknologi. Namun dengan geliat inovasi lokal seperti transformasi perpustakaan dan pelatihan teknologi membuktikan bahwa Banjar sedang menulis babak sendiri tentang bagaimana daerah ini bisa merespons revolusi digital dengan sumber daya terbatas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kominfo, Kompas.com, Pemerintah Kota Banjar