KALSEL - Pernahkah Anda membayangkan sebuah “Paris” di pedalaman Kalimantan? Julukan “Parijs van Borneo” atau “Paris-nya Borneo” melekat pada Barabai, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), bukan tanpa alasan. Julukan romantis ini, yang muncul pada era kolonial Belanda, menggambarkan sebuah permata tersembunyi yang memiliki daya pikatnya sendiri.
Lantas, apa yang membuat kota yang terletak nyaman di cekungan kaki Pegunungan Meratus ini disandingkan dengan kota mode dan budaya di Eropa tersebut? Jawabannya terletak pada kombinasi unik antara pesona alam, tata kota, dan dinamika sosial budaya pada masanya.
Pesona Alam yang Menyejukkan
Langkah pertama memahami julukan ini adalah dengan merasakan geografinya. Berbeda dengan kota-kota di dataran rendah Kalimantan yang cenderung panas, Barabai dikelilingi bukit-bukit hijau dari rangkaian Meratus.
Baca juga: Menyaksikan Senja Memesona di Kalsel: 5 Spot Sunset Terbaik Selain Pantai
Letaknya yang berada di cekungan menciptakan iklim mikro yang relatif sejuk dan nyaman. Bagi orang-orang Belanda yang datang dari wilayah beriklim sedang, suasana ini tentu sangat menyegarkan. Nuansa rindang dan sejuk inilah yang menjadi fondasi awal perbandingan dengan kota-kota Eropa yang berhawa sedang.
Tata Kota dan Gaya Eropa
Selain alam, Belanda dikenal sebagai perencana kota yang teratur. Mereka meninggalkan jejak pada tata ruang Barabai. Jejak tersebut dapat dilihat dari taman-taman kota dan pohon-pohon besar berkanopi lebar yang ditanam di sepanjang jalan.
Rindangnya pepohonan ini memberikan kesan “kota taman” yang rapi dan asri, mirip dengan banyak kota di Eropa. Nuansa ini diperkuat dengan keberadaan fasilitas-fasilitas bergaya Eropa yang pada zamannya tergolong modern.
Kehidupan Sosial yang Berkilau
Baca juga: Kalimantan Selatan: Di Balik Kekayaan Batubara yang Terpendam Jutaan Tahun
Pada puncaknya, Barabai bukan hanya tentang keindahan fisik. Kota ini menjadi pusat aktivitas pemerintah, perdagangan, dan hiburan bagi wilayah Hulu Sungai. Salah satu simbol kemewahan zaman itu adalah keberadaan Bioskop Juliana. Tempat hiburan ini menjadi bukti nyata kehidupan sosial yang dinamis, tempat masyarakat menikmati film-film terbaru layaknya di kota besar.
Tidak hanya bioskop, fasilitas seperti rumah sakit, kantor pos, restoran, hingga layanan taksi turut melengkapi kemodernan Barabai kala itu. Kelengkapan infrastruktur ini, ditambah dengan reputasinya sebagai pusat kesenian dan budaya Banjar yang hidup, melengkapi citra Barabai sebagai kota yang bukan hanya cantik, tetapi juga berperadaban. Inilah inti dari julukan “Parijs van Borneo”: sebuah kota di pedalaman Borneo yang memiliki kemiripan citra dengan Paris sebagai pusat keindahan, kebudayaan, dan gaya hidup.
Warisan yang Tersisa
Kini, jejak kejayaan itu mungkin tidak lagi seramai dulu. Bioskop Juliana telah menjadi kenangan, namun sisa-sisa keanggunannya masih dapat dirasakan. Taman Dwi Warna dan deretan pohon trembesi yang teduh di sepanjang jalan utama adalah saksi bisu yang masih bertahan. Suasana sejuk di kaki Meratus tetap menjadi daya tarik utamanya.
Baca juga: Barabai, Sang Paris van Borneo yang Memesona Sejak Zaman Kolonial
Julukan “Parijs van Borneo” mungkin adalah sebuah metafora dari masa lalu, tetapi ia mengingatkan kita bahwa Barabai pernah menjadi sebuah permata yang bersinar. Ia adalah potret tentang sebuah era ketika sebuah kota di Kalimantan berhasil memadukan pesona alamnya dengan kemajuan zaman, menciptakan legenda yang patut dikenang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Radar Banjarmasin, Wikipedia, Actual Consulting