Selasa, 30 SEPTEMBER 2025 • 18:33 WIB

Mengungkap Asal-usul Nama Borneo: Dari Kesultanan Brunei hingga Peta Dunia

Author

Ilustrasi Pegunungan Meratus (Dok. AI)

KALSEL - Pulau Kalimantan, yang kita kenal dengan kekayaan alam dan budayanya, menyimpan sejarah panjang dalam namanya. Di peta dunia, pulau ini lebih sering disebut Borneo. Dari manakah sebutan yang mendunia ini berasal? Jawabannya terletak pada jejak interaksi pelayaran dan perdagangan global berabad-abad yang lalu.

Teori Utama: Borneo, Eropaisasi dari "Brunei"

Teori yang paling banyak diterima oleh sejarawan dan ensiklopedia internasional, seperti Encyclopaedia Britannica, menyatakan bahwa "Borneo" adalah adaptasi Eropa dari nama "Brunei". 

Pada abad ke-16, ketika penjelajah Portugis dan Spanyol tiba di perairan Nusantara, mereka pertama kali bersandar dan berinteraksi dengan Kesultanan Brunei yang saat itu merupakan kekuatan maritim yang berpengaruh di pesisir utara pulau.

Baca juga: Borneo vs Kalimantan: Menguak Asal-Usul Dua Nama untuk Pulau yang Sama

Nama "Brunei" dalam catatan mereka ditulis dalam berbagai varian seperti "Burne", "Burney", atau "Borne". Pelaut Eropa kemudian menggunakan nama tempat mereka pertama mendarat ini untuk menyebut seluruh pulau. Praktik ini umum dilakukan pada era penjelajahan. Lambat laun, sebutan "Borneo" menjadi standar dalam peta-peta Eropa dan digunakan secara internasional hingga kini.

Lapisan Sejarah yang Lebih Tua: Jejak Bahasa Sanskerta

Sebelum kontak dengan Eropa, nama "Brunei" sendiri diduga memiliki akar yang lebih dalam. Sumber leksikografis seperti Etymonlin** mencatat kemungkinan kaitan dengan kosakata Bahasa Sanskerta. Salah satu teori menyebutkan hubungannya dengan kata "Varuna", yang merupakan nama dewa laut dalam mitologi Hindu. Kata lain yang sering diacu adalah "bhūmi" yang berarti 'tanah'.

Dugaan ini menunjukkan bahwa nama "Barunai" atau "Porunai" mungkin telah digunakan lama sebelum kedatangan Eropa, mencerminkan pengaruh budaya India yang masuk melalui jalur perdagangan kuno. 

Baca juga: Misteri Daratan Pertama di Bumi: Jejak Zaman Hadean di Australia dan Kanada

Dengan demikian, nama "Borneo" adalah hasil dari proses panjang: dari akar Sanskerta, menjadi nama lokal kesultanan, dan akhirnya diadopsi dan disesuaikan oleh orang Eropa.

Teori Alternatif: Komoditas Pohon Borneol

Teori populer yang sering muncul dalam literatur sejarah lokal, termasuk yang diangkat oleh RRI (Radio Republik Indonesia), menghubungkan nama "Borneo" dengan komoditas andalan pulau ini, yaitu pohon Dryobalanops aromatica. Pohon ini menghasilkan kristal borneol atau kamper yang sangat bernilai tinggi dalam perdagangan rempah-rempah zaman dulu.

Konon, pedagang Eropa mengenal pulau ini melalui komoditas kayu dan minyak borneol yang mereka dapatkan. Mereka kemudian menamai pulau tersebut berdasarkan produk unggulannya itu. Meski menarik, teori ini dianggap sebagai folk etymology (etimologi rakyat) dan memiliki bukti historis yang lebih lemah dibandingkan dengan teori "Brunei".

Baca juga: Barabai: Menguak Jejak “Parijs van Borneo” di Kaki Pegunungan Meratus

Bukti-bukti sejarah, terutama dari peta-peta Eropa abad ke-16 dan catatan-catatan Cina kuno yang menyebut "Bo-ni", memperkuat teori bahwa "Borneo" memang bermula dari "Brunei". Proses perubahan fonetik ini adalah cerita khas bagaimana peta dunia dibentuk oleh perspektif dan interaksi para penjelajah.

Jadi, nama Borneo bukanlah ciptaan dari vacuum, melainkan hasil dialog budaya yang berlapis. Ia membawa jejak pengaruh Sanskerta kuno, kejayaan kesultanan lokal di Nusantara, dan akhirnya, pencatatan oleh dunia Barat. Nama itu sendiri adalah sebuah peta yang menceritakan sejarah hubungan antarperadaban.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Encyclopaedia Britannica, RRI, Etymonline

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU