Senin, 29 SEPTEMBER 2025 • 10:55 WIB

Kontras Kalsel: Pesona Pasar Terapung dan Luka Tambang yang Menganga

Author

Keadaan Banjarmasin pada malam hari (Pinterest/hurin'in)

KALSEL - Banyak yang mengenal Kalimantan Selatan (Kalsel) melalui pesona romantis Pasar Terapung di Sungai Barito, di mana aktivitas jual-beli sayuran dan hasil kebun masih berlangsung di atas perahu dari subuh hingga pukul sembilan pagi . Namun, di balik daya tarik budayanya yang unik, tersembunyi fakta-fakta mengejutkan tentang pertarungan antara kelestarian alam dan eksploitasi sumber daya yang meninggalkan luka mendalam.

Sungai-Sungai yang Menjerit: Dari Limbah Domestik hingga Tekanan Tambang

Pencemaran air telah menjadi masalah serius. Laporan Mongabay menunjukkan upaya-upaya pemulihan sungai di Banjarmasin, mengisyaratkan bahwa sungai-sungai legendaris, yang menjadi urat nadi kehidupan, sedang tidak baik-baik saja . Tekanan ini tidak hanya berasal dari limbah domestik, tetapi juga datang dari aktivitas industri ekstraktif.

Baru-baru ini, warga Desa Rantau Bakula, Kabupaten Banjar, harus mendatangi Walhi Kalsel untuk melaporkan dampak buruk tambang batubara bawah tanah. Mereka mengeluhkan air sumur yang keruh dan kotor, memaksa ibu-ibu untuk menggunakan air galon bahkan untuk memandikan bayi karena air lokal menimbulkan gatal-gatal . Keluhan ini adalah secuil dari masalah sistemik pertambangan yang kerap disorot dalam laporan lingkungan.

Baca juga: Sedih! Tambang Emas Aceh Ditutup, Warga Bingung Cari Nafkah

Meratus: Benteng Terakhir yang Berjuang Bertahan

Pegunungan Meratus, jantung ekologi Kalsel, tak luput dari ancaman. Laporan investigasi Mongabay menyebutkan tentang urgensi perlindungan dan pembatalan rencana eksploitasi tambang di kawasan ini . Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Mahkamah Agung pernah mengabulkan kasasi Walhi yang mencabut izin tambang batubara di Meratus, menunjukkan betapa rentannya kawasan ini .

Ancaman terhadap Meratus justru memicu kebangkitan kesadaran generasi muda. Pada peringatan Hari Bumi 2025, muda-mudi dari berbagai elemen—mahasiswa, pelajar, aktivis, hingga musisi—memenuhi Bundaran Banjarbaru. Dengan tagar #SaveMeratus, mereka menolak rencana pembentukan Taman Nasional yang dikhawatirkan akan menggusur ruang hidup masyarakat adat, sambil menuntut penghentian izin perusahaan ekstraktif baru .

Seorang vokalis band punk hardcore lokal berorasi di sela penampilannya, "Berapa banyak tambang dan kebun sawit yang telah merampas hutan kita?... Sebelum tanah Kalimantan berubah menjadi lubang-lubang kehancuran, kita harus berdiri tegak" . Semangat ini menunjukkan bahwa isu lingkungan telah menemukan saluran suara yang baru dan lebih vokal.

Baca juga: Pesona Geologi Meratus: Mengungkap Misteri Batu Tua di Kalimantan

Mencari Jalan Keluar: Antara Cita dan Realita

Di tengah tantangan berat, sejumlah cahaya harapan tetap menyala. Upaya konservasi yang digerakkan masyarakat, seperti budidaya kopi Meratus yang bertujuan meningkatkan ekonomi warga sekaligus menjaga hutan, terus dijalankan . Upaya-upaya semacam ini, meski kecil, merupakan fondasi penting untuk membangun model pembangunan yang lebih berkelanjutan dan berkeadilan di Kalimantan Selatan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Mongabay, Times Indonesia, Reuters

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU