Senin, 29 SEPTEMBER 2025 • 19:16 WIB

Pamali Banjar: Mitos, Makna, dan Fungsi Sosial di Balik Larangan Tradisional Masyarakat Kalimantan Selatan

Author

Suku dayak dan Suku Banjar yang sedang menari bersama (Pinterest/Albertus Rico)

KALSELMasyarakat Banjar di Kalimantan Selatan memiliki kekayaan budaya lisan yang disebut pamalilarangan atau pantangan yang diwariskan turun-temurun. Meski sering dianggap sebagai mitos, pamali menyimpan nilai-nilai pendidikan, kontrol sosial, dan kearifan lokal yang masih relevan hingga kini.  

Salah satu pamali yang populer adalah larangan duduk di depan pintu setelah maghrib. Mitosnya, hal ini dapat menyebabkan susah jodoh atau mendatangkan sial. Namun, di balik narasi supranatural tersimpan fungsi praktis: mencegah penghalangan akses masuk, mengajarkan sopan santun, dan menjaga keamanan terutama pada malam hari.  

Pamali lain yang juga dikenal luas adalah tidak boleh memotong kuku pada malam hari. Larangan ini hampir serupa di berbagai daerah di Indonesia. Dalam konteks Banjar, pamali ini dulunya berangkat dari keterbatasan pencahayaan yang berisiko menyebabkan luka. Namun, penjelasan mistis seperti “mendatangkan sial” atau “mengundang makhluk halus” lebih sering disampaikan kepada anak-anak agar mereka patuh.  

Baca juga: Pamali Banjar Bagian Dari Kearifan Lokal yang Tidak Tertulis

Tradisi juga mengatur perilaku perempuan, misalnya larangan keramas atau mencuci rambut saat menstruasi. Alasannya beragam: mulai dari khawatir masuk angin hingga dianggap mengganggu rezeki. Namun, penelitian etnografi menunjukkan bahwa larangan ini lebih berkaitan dengan norma kesucian dan kontrol tubuh selama haid, bukan berdasarkan bukti medis.  

Ada pula praktik menyentuh atau mencicipi makanan yang ditawarkan tuan rumah, yang dalam budaya Banjar disebut sapulun atau kepuhunan. Menolak secara mentah-mentah dianggap tidak sopan dan dapat membawa ketidakharmonisan. Ini adalah bentuk penghormatan dan mekanisme menjaga solidaritas sosial.  

Larangan bermain saat maghrib juga sering dikaitkan dengan risiko diculik makhluk halus. Di balik narasi mistis, tersimpan fungsi protektif agar anak-anak tidak berkeliaran di luar rumah pada waktu yang rawan kecelakaan atau kejahatan.  

Baca juga: Menelisik Mitos Sandekala: Asal-Usul Pamali Keluar Rumah di Waktu Maghrib

Pamali: Antara Tradisi dan Transformasi  

Banyak pamali yang awalnya dilandasi oleh kondisi zaman—seperti keterbatasan penerangan atau tingkat kesehatan—kini ditafsir ulang oleh generasi muda. Mereka cenderung melihatnya sebagai bentuk kearifan lokal yang perlu dipahami konteksnya, bukan sekadar takhayul.  

Meski begitu, pamali tetap berperan sebagai alat kontrol sosial yang efektif, terutama dalam mengatur perilaku anak dan menjaga tata krama. Nilai-nilai disiplin, penghormatan, dan kehati-hatian yang terkandung di dalamnya masih relevan dalam masyarakat modern.  

Pamali Banjar bukan sekadar mitos tanpa makna. Ia adalah cerminan nilai sosial, budaya, dan sejarah yang terus hidup dalam dinamika masyarakat. Namun, penting untuk membedakan antara warisan budaya dan fakta medis atau ilmiah agar tidak terjebak dalam misinterpretasi.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: UIN Antasari, Tirto.id, STKIP Banjarmasin

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU