Seseorang sedang melihat ponselnya (Pinterest/Freepik)
Jika Anda memperhatikan percakapan WhatsApp anak muda zaman sekarang, Anda mungkin menemukan pola yang konsisten: huruf kecil di mana-mana, pengulangan huruf seperti "yaaa" atau "bangeett", emoji tangis (😭) untuk menertawakan sesuatu, serta campuran bahasa Indonesia dan Inggris yang seamless. Ini bukan sekadar tren atau kesalahan ketik — melainkan sebuah sistem komunikasi yang disengaja dan penuh makna.
Menurut penelitian dalam linguistik komunikasi bermedia komputer (computer-mediated communication/CMC), gaya penulisan tanpa kapitalisasi sengaja dipakai untuk menciptakan suasana akrab dan informal. Penulisan dengan huruf kapital dianggap terlalu formal dan berjarak, sementara semua huruf kecil mencerminkan keakraban dan kedekatan hubungan.
Fitur lain yang sering muncul adalah expressive lengthening atau perpanjasan huruf. Kata seperti "baik" menjadi "baikkk", atau "yes" menjadi "yesss", berfungsi untuk menirukan intonasi dan penekanan dalam bicara. Penelitian CollabLab menyebutnya sebagai upaya untuk menghidupkan nuansa paralinguistik yang hilang dalam teks.
Baca juga: Pendiam di Kelas, Cerewet di Chat: Kenalan Sama Si Textrovert Kampus!
Yang tak kalah menarik adalah penggunaan emoji. Emoji wajah menangis (😭) yang secara harfiah berarti sedih, sering kali dipakai untuk menyatakan tawa terbahak-bahak atau situasi yang sangat lucu. Studi pada percakapan WhatsApp menunjukkan bahwa emoji ini berfungsi sebagai penanda tawa bersama dan penguat humor — bukan ekspresi kesedihan.
Selain itu, anak muda juga kerap mencampur bahasa Indonesia dengan istilah asing (umumnya Inggris), seperti "gue lagi stress banget" atau "that's so me!". Penelitian yang dilakukan pada remaja Indonesia di Instagram menunjukkan bahwa code-mixing tidak hanya digunakan untuk mengisi kekosongan kosakata, tetapi juga sebagai penanda identitas modern, gaya, dan keakraban.
Singkatan seperti "wkwk", "gpp", "btw", atau "otw" juga menjadi ciri khas. Selain mempercepat komunikasi, singkatan ini berfungsi sebagai penanda identitas kelompok dan budaya digital.
Baca juga: 3 Rekomendasi Game Buatan Indonesia yang Seru Dimainkan Berdua via HP
Dari sudut pandang pendidikan dan profesional, penting untuk memahami bahwa gaya chat ini adalah varian bahasa yang sah dalam konteks informal. Namun, kemampuan untuk beralih ke ragam formal tetap diperlukan dalam situasi resmi.
Dengan memahami logika di balik gaya berbahasa digital ini, kita tidak hanya menjadi lebih melek linguistik, tetapi juga lebih mampu beradaptasi dengan evolusi bahasa di era digital.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Researchgate, UNMAS, CollabLab