Suasana bahari dimana semua perempuan berkumpul (Pinterest/potolawas)
KALSEL - Dalam arus modernisasi yang deras, masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan masih memegang teguh warisan leluhur berupa nasihat bijak yang dikenal sebagai "papadah" atau "nasihat Urang Bahari".
Ungkapan-ungkapan tradisional ini bukan sekadar peribahasa biasa, melainkan kurikulum informal yang mengandung pedoman moral, etika sosial, dan strategi survival yang telah teruji waktu. Dibentuk oleh lingkungan sungai dan laut yang menjadi denyut nadi kehidupan, kearifan ini mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual.
Masyarakat Banjar secara historis merupakan komunitas bahari yang kehidupan ekonominya bergantung pada sungai, rawa, dan laut. Istilah "Urang Bahari" merujuk pada generasi tua atau leluhur yang mewariskan pengetahuan tradisional melalui ungkapan-ungkapan bijak. Lingkungan geografis yang penuh tantangan ini melahirkan nasihat-nasihat praktis yang relevan dengan kondisi mereka, seperti:
"Apik-apik kalu tabarusuk" (Berjalan hati-hati agar tidak terperosok) .
Nasihat ini tidak hanya berlaku untuk navigasi di perairan, tetapi juga metafora untuk kehati-hatian dalam mengambil keputusan hidup.
Papadah Banjar berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial dan transmisi nilai-nilai luhur. Studi akademis mengidentifikasi beberapa nilai inti yang terkandung:
Baca juga: 5 Zodiak yang Paling Sering Bikin Mantan Menyesal Setelah Putus, Apa Kamu Termasuk?
Contohnya, peribahasa "Amun bapandir di bawah-bawah, amun mandi di hilir-hilir" mengajarkan kerendahan hati dalam tutur kata dan perilaku.
Keunikan papadah Banjar terletak pada penggunaan metafora alam yang kaya, terutama fauna sungai dan laut. Hal ini membuat nasihat mudah diingat dan memiliki daya evokatif yang kuat:
"Halus-halus iwak, ganal-ganal biawak" (Kecil-kecil ikan, besar-besar biawak) .
Ini mengajarkan untuk melihat nilai manfaat dari sesuatu, bukan hanya penampilan luarnya. Metafora seperti ini menunjukkan keintiman budaya Banjar dengan lingkungannya.
Baca juga: 3 Rekomendasi Game Buatan Indonesia yang Seru Dimainkan Berdua via HP
Meskipun kaya nilai, warisan lisan ini menghadapi ancaman pelestarian. Generasi muda semakin tidak akrab dengan bentuk-bentuk tutur tradisional akibat urbanisasi dan perubahan media. Beberapa upaya yang bisa dilakukan:
1. Dokumentasi Terstruktur: Mengumpulkan papadah dari penutur tua dan membuat korpus digital.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: IDN Times, Kumparan, Wikiquote