KALSEL - Memasuki pertengahan tahun 2025, langit di Kalimantan Selatan (Kalsel) kembali diselimuti kabut asap yang mengancam kesehatan dan aktivitas masyarakat. Berdasarkan data satelit dan pemantauan instansi terkait, peningkatan titik panas (hotspot) menjadi pemicu utama memburuknya kualitas udara di wilayah ini.
Hotspot dan Respons Darurat
Sejak awal Agustus 2025, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendeteksi 41 titik panas di Kalimantan Selatan, dengan total 73 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah membakar sekitar 155 hektare lahan . Menyikapi kondisi ini, Gubernur Kalsel Muhidin menetapkan status siaga darurat karhutla mulai 4 Agustus hingga 30 September 2025 .
Dampak Langsung pada Visibilitas dan Kualitas Udara
Kabut asap paling terasa di wilayah Banjarbaru, Tapin, dan Tanah Laut. Warga melaporkan penurunan visibilitas di pagi hari, disertai bau menyengat yang mengganggu. Kondisi ini bersifat dinamis—bergantung pada arah angin dan keberhasilan operasi pemadaman .
Baca juga: Jika Satu SMA Besar di Kalsel: Solusi atau Beban Baru bagi Pendidikan?
Berdasarkan pemantauan kualitas udara, indeks AQI di Banjarmasin dan Banjarbaru berkisar antara 40–80 (kategori sedang) pada hari normal, namun dapat melonjak di atas 100 (tidak sehat untuk kelompok sensitif) saat kabut asap pekat muncul. Parameter PM2.5 menjadi ancaman utama bagi kesehatan pernapasan.
Faktor Cuaca dan Upaya Mitigasi
BMKG mencatat bahwa musim kemarau di Kalsel diperkirakan berlangsung hingga September 2025, dengan puncaknya pada Agustus-September. Anomali suhu permukaan laut yang positif turut memperpanjang periode kering . Untuk mengantisipasi eskalasi karhutla, BMKG bersama KLHK dan TNI AU melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) selama 10 hari guna pembentukan hujan buatan.
Bukti Visual dan Pelibatan Masyarakatakat
Citra satelit dari sistem SiPongi KLHK menunjukkan sebaran titik panas yang terkonsentrasi di lahan gambut. Masyarakat diimbau untuk melaporkan titik api yang terlihat, menghindari aktivitas luar ruangan saat AQI memburuk, serta menggunakan masker N95 jika terpaksa beraktivitas di luar .
Baca juga: PLN Klarifikasi Pemadaman Listrik di Aceh, Ini Penyebabnya
Proyeksi dan Harapan ke Depan
Dengan ditetapkannya status siaga darurat hingga akhir September, upaya pemadatan dan patroli intensif terus dilakukan. Namun, keberhasilan penanganan karhutla juga bergantung pada faktor alam seperti pergantian musim hujan yang diprediksi terjadi pada Oktober-November 2025 .
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BMKG, KLHK RI, BNBP