Selasa, 30 SEPTEMBER 2025 • 08:36 WIB

Merayakan Maulid Nabi: Tradisi, Makna, dan Kontroversi di Berbagai Belahan Dunia

Author

Perayaan sebuah festival (Pinterest/Khmer civilization)

KALSEL - Maulid Nabi, atau Mawlid al-Nabi, merupakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dirayakan oleh umat Muslim di seluruh dunia setiap tanggal 12 Rabi' al-Awwal dalam kalender Hijriyah. Perayaan ini tidak hanya menjadi momen religius, tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya dan tradisi yang beragam di berbagai negara. 

Namun, di balik kemeriahannya, Maulid Nabi juga menuai kontroversi dari segi teologis. Artikel ini akan mengupas asal-usul, variasi tradisi, serta perdebatan yang menyertai perayaan Maulid Nabi.

Asal-Usul Sejarah Maulid Nabi

Perayaan Maulid Nabi tidak dilakukan pada masa Nabi Muhammad SAW atau para sahabatnya. Sejarah mencatat bahwa peringatan Maulid pertama kali diperkenalkan oleh Dinasti Fatimiyah di Mesir pada abad ke-11 Masehi. 

Baca juga: Wajib Coba! Resep Woku Ikan Kerapu Khas Manado yang Enak dan Mudah Dibuat

Awalnya, perayaan ini hanya berupa prosesi istana yang melibatkan pembacaan puisi dan syair untuk menghormati Nabi. Namun, pada tahun 1207, seorang jenderal Muslim bernama Muẓaffar al-Dīn Gökböri dari Erbil (Irak) mengadakan perayaan Maulid secara publik dengan meriah, yang kemudian menyebar ke seluruh dunia Muslim. Pada masa Kesultanan Utsmaniyah, Maulid Nabi diresmikan sebagai hari libur nasional yang dikenal sebagai Mevlid Kandil.

Variasi Tradisi di Berbagai Negara

Perayaan Maulid Nabi memiliki ciri khas yang berbeda-beda di setiap negara, tergantung pada budaya dan tradisi lokal. Berikut beberapa contohnya:

1. Indonesia

Indonesia, dengan kekayaan budayanya, memiliki banyak tradisi unik dalam merayakan Maulid Nabi. Beberapa yang paling terkenal termasuk:

- Grebeg Maulud (Yogyakarta dan Surakarta): Perayaan ini melibatkan prosesi gunungan yang terbuat dari makanan dan hasil bumi yang diarak dari keraton ke masjid agung. Gunungan kemudian diperebutkan oleh warga sebagai simbol berkah.

Baca juga: Tradisi Baayun Maulid Dari Akulturasi Budaya dan Islam dalam Doa untuk Generasi Penerus

- Baayun Maulid (Kalimantan Selatan): Tradisi mengayun bayi sambil membacakan syair Maulid sebagai bentuk syukur atas kelahiran Nabi Muhammad.

- Tradisi Ketupat (Madura): Masyarakat membuat ketupat dari daun kelapa secara gotong royong dan membagikannya ke pondok pesantren.

2. Mesir dan Negara Timur Tengah

Di Mesir, perayaan Maulid Nabi diwarnai dengan pembacaan puisi-puisi pujian untuk Nabi, festival, dan khotbah keagamaan. Di Kairo, perayaan ini sering kali melibatkan jutaan orang yang berkumpul di Alun-Alun Azhar. Kelompok Sufi juga memainkan peran penting dengan mengadakan zikir massal dan prosesi yang penuh warna.

3. Amerika Serikat dan Eropa

Baca juga: Inspirasi dari Banua: Perempuan Penggerak Kalimantan Selatan yang Memberdayakan

Di negara-negara Barat, perayaan Maulid Nabi sering kali diadakan oleh komunitas Muslim setempat. Acara ini mencakup ceramah, pembacaan puisi, dan salawat, serta kegiatan amal untuk anak-anak yatim. Beberapa komunitas bahkan mengadakan konferensi internasional untuk membahas kehidupan dan ajaran Nabi.

 Perdebatan Teologis

Meskipun banyak dirayakan, perayaan Maulid Nabi menuai kontroversi di kalangan umat Muslim. Sebagian ulama, terutama dari kalangan Salafi dan Deobandi, menganggap Maulid Nabi sebagai bid'ah (inovasi dalam agama) karena tidak pernah dilakukan oleh Nabi atau para sahabat. Mereka berargumen bahwa perayaan ini meniru tradisi Nasrani yang merayakan kelahiran Yesus.

Di sisi lain, ulama dari kalangan Sunni dan Syiah umumnya menerima Maulid Nabi sebagai bentuk ekspresi cinta kepada Nabi, selama tidak melibatkan praktik-praktik yang bertentangan dengan syariat. Mereka melihat perayaan ini sebagai sarana untuk meningkatkan ketakwaan dan mempelajari kehidupan Nabi.

Maulid Nabi adalah perayaan yang penuh makna, tidak hanya sebagai momen religius tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya umat Muslim. Meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai hukumnya, semangat untuk meneladani kehidupan Nabi Muhammad SAW tetap menjadi inti dari perayaan ini. Dengan memahami sejarah, tradisi, dan kontroversinya, umat Muslim dapat menghargai keberagaman dalam merayakan Maulid Nabi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Encyclopaedia Britannica, Al Jazeera, The Jakarta Post

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU